Abdullah Bin Rowahah Sang Panglima Berlidah Tajam
Sejarah mencatat prestasi-prestasi besar umat islam dalam menyebarkan panji dakwahnya. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi ketika islam mulai memompa denyut nadinya tersebut, menjadi sebuah kisah yang menginspirasi bagi perkembangan dakwah generasi selanjutnya. Sebut saja peristiwa penaklukan-penaklukan umat islam atas wilayah-wilayah yang secara terang-terangan menghalangi dan memerangi dakwah islam, seperti penaklukan Mekah, penaklukan Persia, perang Badar atau pembebasan-pembebasan wilayah-wilayah yang mengalami penindasan oleh penguasa lalim seperti pembebasan mesir dari kerajaan romawi dan Persia kala itu, atau pembebasan Andalusia dari Rhoderic yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.Beberapa peristiwa heroik tersebut walau sarat dengan pertumpahan darah dan jatuhnya korban yang tak terelakkan, namun disisi lain ada keteladanan-ketedanan yang menyematkan citra positif pada kaum muslim dan gerakannya. Citra positif tersebut semakin mengokohkan bahwa islam disebarkan di muka bumi ini sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Salah satu peristiwa heroik yang dicatat sejarah islam bahkan mengubah dunia adalah perang Mu’tah. Peperangan ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 Hijriah di sebuah daerah bernama Mu‘tah yang terletak di perbatasan Syam. Dalam perang ini, kaum muslimin yang berjumlah 3000 pasukan mampu memukul mundur pasukan romawi yang berjumlah sebanyak 200.000 orang. Juga, perang ini menyisakan keteladanan para pemimpin-pemimpinnya yang gugur dalam tugas. Mereka adalah Zaid bin Haritsa, Ja‘far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Saat perang berkecamuk, ketiga sahabat ini bahu-membahu memukul mundur lawan dan mempertahankan semangat pasukannya walau jumlahnya sangat tidak berimbang. Saat Zaid bin Haritsa gugur di ujung tombak, bendera perang diambil alih langsung oleh Ja’far bin Abu Thalib sampai menemui Rab-nya dalam keadaan syahid, kemudian Abdullah bin Rowahah mengambil alih panji peperangan hingga mengalami nasib yang sama dengan kedua sahabat sebelumnya. Akhirnya Kholid bin Walid mengambil alih kepemimpinan hingga menghasilkan kemenangan di pihak umat Islam. Tentunya kemenangan yang diraih pasukan islam lewat tangan panglima Kholid bin Walid bukan berarti bahwa Kholid lebih cakap dalam memimpin pasukan, melainkan bahwa kemenangan yang diraih Kholid dan pasukannya merupakan akumulasi dari usaha-usaha perlawanan yang dilakukan oleh ketiga sahabat yang telah menjemput syahid. Tak terkecuali usaha sahabat Abdullah bin Rowahah yang piawai dalam merangkai kata-kata sehingga mampu memantik keberanian prajurit muslim, menggelorakan semangat Jihad disaat pasukan muslim ciut nyalinya menghadapi besarnya jumlah lawan yang tak sebanding dengan jumlah mereka.
Dalam beberapa literatur sejarah islam, disebutkan ketika pasukan muslim mengetahui jumlah lawan sekian lipat dibanding jumlah mereka, timbul sedikit kecemasan menyelimuti para panglima perang, akhirnya sahabat Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rowahah melakukan perundingan guna membahas strategi perang. Akhirnya tercetuslah gagasan Zaid bin Haritsah untuk menulis surat ke Madinah meminta tambahan bantuan pasukan untuk mengimbangi jumlah pasukan di pihak lawan. Akan tetapi Abdullah bin Rowahah dengan lantang menolak usulan tersebut sembari meyakinkan bahwa perang kali ini akan dimenangkan oleh kaum muslim, jika tentara muslim berperang semata-mata karena Allah dan guna menjemput syahid. Letupan kata-kata Abdullah bin Rawahah membuat semangat pasukan muslimin kembali terpancar, menatap pasukan musuh dengan penuh keberanian
Disinilah peran Abdullah bin Rowahah menonjol, khususnya dalam berorasi. Ia berhasil membangkitkan kembali semangat tentara muslim untuk menggelorakan kalimat Allah dalam medan jihad. Dalam orasinya ia meyakinkan bahwa perang kali ini bukan didasarkan pada jumlah bilangan dan kekuatan, tapi semata-mata untuk membela agama Allah dan memenuhi panggilan syahid yang menjadi impian semua kaum muslimin. Kata-kata yang singkat, jelas dan berdaya hipnotis merupakan cerminan dari kemampuan beliau sebagai seorang penyair ulung.
Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Dan Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair. Maka tidak heran, jika orasi-orasinya langsung menusuk ke hati para pendengarnya, begitu juga ketika beliau berorasi di hadapan pasukan muslim pada perang Mu’tah. Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, Abdullah ibnu Rawahah selalu tampil membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan.
Saidini Umar bin Khatab pernah berpesan untuk mengajarkan sastra kepada generasi-generasi muda umat “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani”. Dengan alasan ini juga mengapa para pemimpin perang biasa melantunkan syair di hadapan prajuritnya sebelum berhadapan dengan musuhnya. Tak terkecuali Abdullah bin rowahah yang konon sebelum memeluk islam melibatkan diri bersama para penyair-penyair kafir Quraisy untuk menghalangi dakwah islam dengan syair-syair yang merendahkan martabat nabi dan agama tauhid. Akan tetapi ketika dia masuk islam, kepiawaiannya mengolah kata-kata indah tersebut menjadi senjata yang tak kalah tajamnya dengan pedang seorang prajurit.
Dalam Mu’tah, Abdullah bin Rawahah mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang berasal dari keyakinan yang kuat. Dia memang tidak ikut menikmati udara kemenangan bersama pasukan yang lain. Namun inisiatifnya untuk mengangkat spirit pasukan ketika kebimbangan dan rasa takut meliputi mereka, telah menghalangi langkah mundur pasukan sebelum memasuki medan perang. Dan mengajarkan kepada kita untuk mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki Li’ilai Kalimatillah, termasuk kemampuan yang terkadang banyak disepelakan seperti menulis dan berorasi. Semoga kebaikan-kebaikan yang dimilikinya senantiasa menjadi inspirasi pelecut semangat dalam berdakwah bagi generasi-generasi islam selanjutnya termasuk kita. Amin.
Oleh : Khoirul Fata



Leave a Reply