Genggam Dunia dengan Membaca
Ayat al-Qur’an yang pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah “iqra”, sebuah perintah untuk membaca. Para ulama memang berbeda pendapat dalam mengartikan lafal ini. Di antara mereka ada yang mengambil arti hakiki (khusus) yaitu “membaca sebuah teks tertulis” atau al-Qur’an itu sendiri. Hal ini tercermin dari jawaban Nabi Muhammad ketika Jibril datang menyampaikan ayat ini. “Aku tidak bisa membaca,” ujar sang Nabi, menegaskan bahwa ia adalah seorang buta huruf.
Sebagai lain mengartikan kata “iqra” ini dengan artian yang lebih luas, yaitu mmembaca alam semesta, karena pada hakikatnya alam yang terbentang luas di depan kita ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta. Terdapat banyak pelajaran yang bisa kita baca dari alam raya ini.
Terlepas dari kedua pendapat di atas, yang pasti ayat ini adalah salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan aktifitas membaca. Bagi Islam, membaca bukan hanya sekedar hobi dan kebutuhan, ia sudah menjadi tuntutan bahkan kewajiban. Membaca adalah sumber dari segala pengetahuan, yang kemudian menjadi embrio tumbuhnya peradaban yang gemilang.
Walaupun Nabi Muhammad adalah seorang buta huruf namun ia sangat menganjurkan umatnya untuk belajar dan membaca. Di tengah budaya buta huruf yang berkuasa pada saat itu, Rasul berusaha untuk mengikisnya dengan menyuruh para non-Muslim mengajarkan kepada umat Islam membaca. Ketika Islam mulai tumbuh di Madinah Nabi memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk membaca buku-buku bahasa Ibrani dan belajar Taurat dari orang-orang Yahudi. Bahkan Nabi juga bersabda, “Siapa yang meniti jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka jalan baginya menuju syurga.” Dan jalan ilmu pengetahuan itu tak lain adalah membaca.
Sejarah telah mencatat, peradaban-peradaban gemilang yang pernah muncul menguasai dunia adalah perdaban yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan itu tak lain adalah hasil dari membaca yang sangat keras. Peradaban Islam tembuh berkembang karena membaca khazanah peninggalan-peninggalan peradaban Yunani dan Romawi, lalu diadaptasikan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Begitu juga peradaban Barat saat ini adalah hasil dari membaca warisan-warisan keilmuan Islam yang kemudian mereka terapkan dalam kehidupan mereka.
Amerika yang saat ini menguasai peradaban dunia tercatat 100% penduduknya aktif membaca Koran harian. Jepang, Jerman dan negara maju lainnya Masyarakatnya adalah “kutu buku”. Penduduk negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, Ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, dan aktifitas lainnya mereka tidak pernah lupa untuk menyempatkan membaca. Maka tak salah kalau perdaban mereka berjaya menguasai dunia.
Dalam Islam keadaan seperti ini pernah terjadi. Peradaban Islam yang pernah gemilang berbanding lurus dengan aktifitas membaca para umatnya. Ketika Eropa masih gelap gulita diterpa perpecahan yang peperangan saudara, Islam telah memiliki perpustakan terbesar di dunia. Baghdad, Cordoba, Mesir, adalah sebagian kecil buktinya. Karya-karya besar para ulama telah memenuhi rak-rak perpustakaan di sana. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’I, Al-Hawarizmy, Ibnu Sina, al-Faraby, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar al-Asqalani adalah sebagian kecil dari mereka yang memiliki ratusan karya. Karya-karya itu tentu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari kegigihan mentelaah dan kecintaan membaca.
Kecintaan pada ilmu dan membaca, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Perintah “iqra” seakan sudah melekat kuat dalam kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Lihatlah penuturan seorang Ibnu Abdul Hadi. Salah seorang murid Ibnu taimiyah ini pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak pernah letih untuk terus menelaah dan mencari.”
Bagi mereka, buku ibarat sebuah gudang harta karun. Ketika menemukannya mereka tidak sabar untuk membaca dan melahap semua isinya. Ibnu al-Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.” Selanjutnya dia mengatakan, “kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid buku, tetapi aku masih terus mencari.”
Bukan hanya itu, bahkan membaca telah menjadi penyemangat mereka untuk untuk terus hidup. Ia ibarat butiran oksigen yang mengisi paru-paru mereka untuk menyambung nafas mempertahankan eksistensi diri mereka.
Ibnu taimiyah pernah jatuh sakit parah. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak bisa bergerak dan beranjak kemana pun. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya membaca dan menelaah buku-buku.
Ketika sang dokter kuwalahan mengobati penyakitnya dan menganjurkannya untuk berhenti membaca buku, ia malah berkata, “Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka ia mampu menyembuhkannya dari penyakit? Dan Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu.”
Dan ternyata benar, tak lama setelah itu ia berangsur-angsur membaik kemudian sehat seperti sedia kala. Melihat keajaiban ini sang dokter hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”
Lihatlah, Sobat, bagaimana mambaca buku bukan hanya sebatas hobi dan aktifitas mengisi waktu luang, lebih dari itu, ia telah menjadi obat dari sakit yang meraka derita. Falsafah “bacalah, agar engkau bisa hidup” seakan sudah mendarah daging dalam diri ulama-ulama pendahulu kita. Tak salah kalau kemudian merka bisa melahirkan ribuan karya. Jangankan untuk mengkajinya, untuk membacanya saja kadang-kadang kita tidak sempat.
Begitulah sedikit potret kegigihan para ulama kita dalam membaca. Siapakah kita dibanding mereka? Mungkin pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Kita sering terobsesi ingin menjadi seperti mereka: memiliki pengetahuan luas, dan menghasilakan banyak karya. Tetapi kita lupa, bahwa mereka telah menempuh proses yang berliku. Dan tak lain semua itu berawal dari membaca. Membaca adalah upaya untuk mencari pengetahuan, dan karya (tulisan) adalah cara untuk memberikan (menyampaikannya) kepada orang lain. Bagaimana kita mau memberi kalau kita tidak memiliki apa-apa? “Faaqidus syai’ la yu’thi”. Maka tak pelak, kita harus membaca untuk menghasilkan sebuah karya.
Membaca bukanlah sedekar aktifitas memelototi huruf dan kata, namun ia juga usaha untuk membawa fikiran kita melompat menerjang batas teritorial dunia. Dengan membaca, jendela-jendela pengetahuan dunia terbuka luas bagi kita. Kita bisa mengetahui sejarah ribuan tahun silam yang ada di negeri entah-berntah hanya dengan membaca. Kita tidak perlu datang untuk mengunjungi suatu tempat atau mengikuti sebuah kejadian, cukup dengan membaca, sebenarnya kita telah berkeliling menjelajah dunia.
Seperti halnya makanan bagi tubuh, membaca adalah nutrisi buat otak. Membaca bisa membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir seseorang. Dengan membaca otak kita akan terus terasah dan mendorong kita untuk selalu mencari jawaban dari setiap masalah.
Maka tidak salah kalau perdaban gemilang itu lahir dari membaca. Dan terakhir dari catatan ini saya ingin mengatakan kepada anda, “Bacalah, dan biarkan dunia ada di genggaman anda.”
Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( Kru QommunityRadio Kairo )



Juli 26th, 2010 at 10:59
tulisan yg bagus, materinya mengena. thanks utk ilmunya.
minta izin bwt copy blh yaa…?
Agustus 6th, 2010 at 17:30
bersama kesulitan ada kemudahan
http://nasehat-muslim.blogspot.com/