Allah menyatakan secara tegas bahwa al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar,[1] selain juga menegaskan bahwa al-Quran diturunkan pada malam penuh berkah dan pada bulan Ramadhan.[2] Sampai di sini, tidak ada hal yang dipermasalahkan, karena hampir seluruh ulama –kecuali ada riwayat shad yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr bukan hanya terdapat pada bulan Ramadhan, tapi juga pada bulan-bulan lainnya— menyatakan bahwa Lailatul Qadr adalah malam penuh berkah yang jatuh pada di bulan Ramadhan. Atau lebih tepatnya lagi di malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan, seperti yang diinformasikan oleh Nabi Muhammad dalam Shahib Bukhari dan Shahih Muslim serta beberapa kitab hadits lainnya.

 

Namun, permasalahan kemudian muncul ketika fenomena yang terjadi pada masyarakat Muslim justru memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan, bukan malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Lalu Nuzulul Quran apa yang kita peringati setiap tanggal 17 Ramadhan itu? Bukankah al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadr? Dan bukankah Lailatul Qadr ada pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan? Lalu kenapa kita tidak memperingati Nuzulul Quran pada pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan yang merupakan malam Lailatul Qadar itu? Di sinilah, sekilas terdapat kontradiksi antara malam Lailatul Qadar, malam peringatan Nuzulul Quran dan malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan.

 

Untuk menjawab hal ini, ada beberapa poin yang akan saya kemukakan:Pertama, meski ada perbedaan pendapat dalam masalah tahap penurunan al-Quran, mayoritas ulama ulumul Quran dan ahli tafsir menyatakan bahwa al-Quran diturunkan dalam dua tahap.[3] Tahap pertama adalah tahap penurunan sekaligus dari Lauh Mahfud ke Baitil Izzah, sedangkan tahap kedua adalah tahap penurunan dari Bait al-Izzah kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

 

Pendapat ini dipioneri oleh Ibnu Abbas. Menurut catatan Manna al-Qattan ada empat riwayat dari Ibnu Abbas yang menegaskan pendapat ini.[4] Meski lafadznya mauquf, tapi makna hadist ini bisa dihukumi marfu’ kepada Nabi Muhammad karena berkaitan dengan hal gaib yang “la majala lil ra’yi fiihi lil ijtihad.” Dan ulama hadist bersepakat bahwa Sahabat tidak akan pernah berijtihad dalam hal ghaibiyat seperti ini.

 

Penurunan tahap pertama dari Lauh Mahfud ke Baitul Izzah, tidak ada yang tahu kapan waktunya kecuali Allah Swt. Sedangkan penurunan dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad ada perbedaan pendapat dari para ulama seperti yang nanti akan saya jelaskan.

 

Kedua, hadis tentang Lailatul Qadr terdapat di Kitab Shahihain: Shahih Bukhari dan Muslim, dan kitab-kitab hadist lainnya. Dari beberapa hadist yang saya baca, tidak ada yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadr jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Seperti halnya al-Quran yang menegaskan bahwa Lailatul Qadr ada pada bulan Ramadhan, Rasulullah pun mengaskan hal ini. Namun beliau tidak secara pasti menentukan hari keberapa dalam bulan Ramadhan itu Lailatul Qadr turun. Berdasarkan pada riwayat yang paling bisa dipertanggungjawabkan, Nabi hanya menyatakan bahwa Lailatul Qadr turun pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Lebih eksplisit lagi, di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan.[5]

 

Bahkan ada sebagaian riwayat yang menyatakan bahwa Nabi pernah tahu hari keberapa tepatnya Lailatul Qadr itu turun, namun kemudian beliau lupa. Karena lupa, Nabi pun hanya memberikan tanda-tanda turunnya, seperti malamnya yang tenang, tidak panas tidak dingin, dan lain sebagainya.

 

Sampai di sini, sudah ada sedikit titik temu antara point pertama dan kedua. Yaitu bahwa waktu turunnya al-Quran pada tahap pertama dari Lauh Mahfud ke Bitul Izzah dan waktu turunnya Lailatul Qadr tidak ada yang tahu kecuali Allah Swt.

 

Ketiga, peringatan Nuzulul Quran yang diadakan pada setiap tanggal 17 Ramadhan adalah peringatan awal turunnya al-Quran, bukan peringatan turunnya seluruh al-Quran yang berlangsung kurang lebih 23 tahun.

 

Kenapa diperingati pada tanggal 17 Ramadhan? Riwayatnya berasal dari Ibnu Ishaq yang juga dinukil pula oleh ulama lain seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir. Pendapat tentang turunnya al-Quran pada malam 17 Ramadhan ini didasarkan pada surat al-Anfal ayat 41 yang berbunyi, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

Para mufassir berpendapat bahwa Furqaan yang dimaksud dalam ayat ini ialah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir; yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar yang jatuh pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Hal inlah yang menjadi patokan sebagian besar mufassir untuk berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Quranul Kariem jatuh pada malam 17 Ramadhan.[6]

 

Keempat, dalam kajian tafsir dan Ulum Quran, ada perbedaan makna antara kata “Inzal” dan “Tanzil’. Kata “Tanzil” menurut Manna al-Qattan yang disadur dari pendapat Raghib al-Asfahani, digunakan khusus untuk menunjukkan proses penurunan al-Quran pada tahap kedua, yaitu dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad yang berlangsung secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Sedangkan kata “Inzal” digunkan untuk menunjukkan kedua tahap penurunan al-Quran; yaitu penurunan dari Lauh Mahfud ke Baitul Izzah dan dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad. Artinya, kata Inzal memiliki makna lebih luas daripada Tanzil.[7]

 

Kesimpulan

Dari beberapa poin di atas, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada kontradiksi antara ayat-ayat yang menerangkan bahwa al-Quran diturunkan pada malam lailatul Qadr, peringatan Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan dan hadis-hadits tentang Nuzulul Quran.

 

Ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan tentang turunnya al-Quran pada malam Lailatul Qadr menggunaan kata Inzal bukan Tanzil. Dan seperti yang saya paparkan di atas, kata Inzal bisa digunakan untuk menunjukkan proses penurunan al-Quran dalam tahap pertama maupun kedua. Namun dalam hal ini, dengan mengikuti pendapat Ibnu Abbas, saya berkesimpulan bahwa ayat-ayat tersebut digunakan untuk menunjukkan proses penurunan al-Quran dari Lauh Mahfudz ke Baitil Izzah bukan proses penurunan al-Quran dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad.

 

Pendapat ini dikuatkan dengan dua argumen penting. Pertama, Lailatul Qadr adalah hal ghaibiyat yang tidak ada yang tahu kapan ia turun kecuali Allah. Dan waktu penurunan al-Quran pada tahap pertama pun tidak ada yang tahu kecuali Allah. Artinya, bisa kita simpulkan bahwa lailatul Qadr yang dimaksut dalam ayat ini adalah malam diturunkannya al-Quran dari Lauh Mahfud ke Bait al-Izzah. Kapan waktu tepatnya? La ya’lamuha illallah. Tetapi Nabi telah memberikan tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk lain yang mendekati pengetahuan tentang hal ini, yaitu di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan.

 

Kedua, jika kita menggunakan ayat ini untuk menunjukkan proses turunnya al-Quran dari Bait al-Izzah kepada Nabi Muhammad, hal ini akan menimbulkan kontradiksi seperti yang saya paparkan pada paragraf awal dari tulisan ini. Secara historis kita akan bertabrakan pada fakta bahwa al-Quran tidak hanya diturunkan semalam, tapi diturunkan dalam tempo 23 tahun selama masa kenabian Muhammad Saw. Bahkan dalam banyak kesempatan, al-Quran turun bukan pada bulan Ramadhan. Selain itu, kita juga akan bertabrakan dengan surat al-Anfal ayat 41 yang menjadi patokan sebagaian besar mufassir bahwa al-Quran diturunkan pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan, dan inilah yang kita peringati setiap tahunnya.

 

Maka dari itu, malam 17 Ramadhan bukanlah malam Lailatul Qadr seperti yang disebutkan pada ayat pertama surat al-Qadr. Malam Nuzulul Quran yang kita peringati pada 17 Ramadhan adalah malam awal turunnya al-Quran dari Baitil Izzah kepada Nabi Muhammad melaui perantara Malaikat Jibril. Sedangkan malam Lailatul Qadr yang disebutkan dalam surat al-Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran dari Lauh Mahfud ke Baitul Izzah. Meski malam Lailatul Qadr mungkin saja terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, sehingga tidak ada pertentangan antara peringatan Nuzulul Quran dan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadr, tapi pendapat ini akan menafikan banyak hadist shahih yang menegaskan bahwa Lailatul Qadr turun di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

 

Terakhir, pendapat tentang awal turunnya al-Quran bukankah masalah fundamental yang bisa mempengaruhi nilai keimanan seorang Muslim. Seperti ungkapan oleh Dr. Fadhl Hasan Abbas, perbedaan dalam hal ini masuk dalam kategori furuiyyah; diperbolehkan berbeda pendapat asal mempunyai argument yang kuat dan tepat.[8] Ini adalah pendapat saya beserta argument dan data-datanya. Maka silakan berikan pandangan Anda beserta argument Anda untuk kita diskusikan  bersama. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Footnote:

[1] QS al-Qadr: 1.

 

[2] Lihar misalnya Qs al-Baqarah: 5 dan ad-Dukhan: 1-5;

 

[3] Manna al-Qattan menyebutkan ada empat pendapat dalam masalah ini. Lihat Manna’ al-Qattan, Mabahits fi Ulumil Quran hal 95-100.

 

[4] Ibid., hal. 97.

 

[5] Bisa dirujuk pada Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Tirmidzi tentang Keutamaan Lalilatul Qadr, Keutamaan puasa dan Qiyam lail, dan bab-bab lain yang masih memiliki kaitan. Salah satu contohnya adalah hadist berikut: “Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: ‘Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon.” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169). Atau untuk lebih memudahkan silakan dirujuk ke Tafsir Ibnu Katsir pada penafsiran surat al-Qadr dari awal hingga akhir.

 

[6] Penjelasan ini bisa ditemukan pada terjemahan Al-Quran versi Depag RI dalam ayat ini.

 

[7] Raghib al-Asfahani, Mufradat Alfadhil Quran pada keyword Na-za-la. Atau lihat juga di Manna al-Qattan, Op.Cit., hal. 101.

 

[8] Redaksi secara tepatnya bisa dilihat di Fadl Hasan Abbas, Muhadharah fi Ululmil Quran, hal. 88.

 

Oleh : Jauhar Ridzoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Kairo )

Share:
  • RSS
  • Facebook
  • email
  • Print