Saat turun Surat al-Hajj ayat 39[1] yang mengizinkan Kaum Muslimin untuk berperang melawan musyrikin Quraisy, terjadi peristiwa menarik di rumah salah seorang Sahabat Anshar. Pelakunya adalah Sa’ad bin Khaitsamah dan ayahnya, Khaitsamah. Mereka berdua saling berebut untuk memenuhi panggilan suci ini. Keduanya tak bisa ikut bersama karena ada istri dan anak-anak wanita yang harus dijaga.

 

Setelah diundi, nasib ternyata memihak Sa’ad. Sa’ad pun ditetapkan untuk ikut berperang di Badar. Namun sang ayah belum terima begitu saja. “Wahai anakku, dahulukan saya untuk keluar (berjihad),” pinta Khaitsamah kepada Sa’ad.

 

“Tidak Ayah! Ini adalah panggilan ke syurga,” jawab Sa’ad. “Saya akan mendahulukanmu dalam perkara lain, namun bukan untuk yang ini.”

 

Sa’ad pun berperang bersama Rasulullah SAW di Badar. Ia syahid. Seruan al-Quran telah ia jawab dengan sempurna. Sementara ayahnya, Khaitsamah, baru bisa memenuhi panggilan jihad pada Perang Uhud. Menyusul sang anak, Haitsamah pun gugur bersama ratusan tentara Muslim lainnya.

 

Dalam cerita lain, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya ketika turun Surat Ali Imran ayat 92,[2] Abu Thalhah yang merupakan salah satu Sahabat terkaya di Madinah datang kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, saya telah mendengar Allah berfirman bahwa ‘kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.’ Dan harta yang paling saya cintai adalah kebun Birha’ ini,[3]” ujar Abu Thalhah. “Saya akan mensedekahkannya di jalan Allah, dengan harapan saya bisa mendapat kebaikan darinya dan menjadi tabungan saya di akhirat nanti.” lanjut Thalhah. “Maka gunakanlah, Wahai Rasulullah, sesuai dengan apa yang Allah perlihatkan kepada engkau.”

 

Rasulullah pun terlihat kaget. “Wah, kebunmu itu harta yang sangat menguntungkan, Abu Thalhah,” sabda Rasul. ”Aku telah mendengar keinginanmu. Tapi menurutku, lebih baik jika kamu bagikan saja kepada kerabat terdekatmu.”

“Saya akan melaksanakannya, Rasulullah,” jawab Abu Thalhah. Kebun berharga itupun kemudian dibagikan kepada sanak dan kerabat terdekatnnya.

 

Cerita di atas adalah sedikit dari potret kesungguhan para Sahabat dalam menjawab seruan al-Quran. Mereka selalu merindukan turunnya al-Quran. Dan ketika telah turun sebuah ayat, mereka selalu berlomba-lomba untuk mengamalkan isi al-Quran sesegera mungkin. Sahabat Ibnu Mas’ud pernah berujar, “Jika seseorang diantara kami mempelajari sepuluh ayat al-Quran, mereka tidak akan pindah ke ayat lain kecuali setelah mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya.” (HR al-Tabari).

 

Dengan keadaan seperti ini, tak salah jika Rasul pun menahbiskan mereka sebagai generasi terbaik umatnya. Dengan menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup dan petunjuk jalan, mereka mampu keluar dari kehidupan jahiliyah yang penuh kesesatan menuju generasi paling agung yang pernah direkam zaman.

 

Jika sebuah peradaban tak bisa tumbuh gemilang kecuali dengan pondasi yang kokoh dan aturan main yang dijalankan, maka kegemilangan masa Sahabat tidak lain adalah hasil dari pengamalan terhadap ajaran-ajaran yang ada dalam al-Quran. Pada masa itu, al-Quran bukan hanya sekedar kita suci yang dibaca tanpa mengetahui maknanya,  apalagi mengamalkan isinya. Al-Quran yang menjadi penjelas segala sesuatu (tibyan likulli syai’in) telah menyatu dalam setiap aktifitas mereka. Jika al-Quran turun dengan sebuah perintah, mereka akan berlomba-lomba menjadi orang pertama yang mengamalkannya. Sebaliknya, jika al-Quran turun dengan larangan atau ancaraman, mereka akan menjauhi sejauh-jaunya.

 

Mereka selalu berusaha untuk mengamalkan ajaran al-Quran, karena mengamalkan ajaran al-Quran berarti mengikuti akhlak Nabi Muhammad seperti yang diperintahkan oleh Allah. “Rasulullah akhlaknya adalah al-Quran,” ucap Sayyidah Aisyah. Maka saat itu, al-Quran bukan hanya sekedar huruf-huruf mati, tapi telah menjadi “benda hidup” yang terwujud secara sempurna pada diri Rasul, dan dicontoh oleh para Sahabat.

 

Saat ini, jika mengikuti pendapat mayoritas ulama, al-Quran telah berusia 1445 tahun sejak pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadhan tahun pertama kenabian. Dengan usia sepanjang itu, sudahkan al-Quran menjadi pedoman kita seperti para sahabat menjadikannya sebagai pedoman?

 

Ternyata belum. Jika para sahabat rela berebut “mati” demi menjawab seruan al-Quran, kita justru sering berebut untuk menghindar. Padahal al-Quran tidak menyeru kecuali kepada kebaikan (QS al-Isra’ [17]: 9). Lebih dari itu, kita juga masih menjadikan al-Quran hanya sebagai kitab bacaan yang tidak memberikan dampak signifikan pada perilaku keseharian kita. Setiap hari kita membacanya, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Bahkan bisa tamat berkali-kali dalam sebulan. Namun penerapan atas apa yang kita baca masih sangat minim.

 

Memang, membaca al-Quran saja kita sudah dapat pahala, tapi apakah yang kita inginkan hanya sebatas itu? Padahal al-Quran diturunkan untuk diikuti dan diamalkan. “Dan al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS al-An’am [6]: 155). “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” QS al-A’raf [7]: 3).

 

Peringatan Nuzulul Quran tahun ini sudah selayaknya kita jadikan sebagai momen untuk kembali menghidupkan al-Quran. Menghidupkan al-Quran berarti menjadikan al-Quran hidup dalam perilaku keseharian kita, yaitu dengan menjadikannya sebagai petunjuk dalam segala aktifitas kehidupan. Berusaha untuk selalu mengamalkannya dan mengikuti seruan-seruannya.

 

Jika sudah demikian, maka kita akan mendapati al-Quran bukan hanya sekedar huruf-huruf mati yang dibaca tanpa tahu maknanya. Kita akan melihat al-Quran berjalan di mana-mana dalam wujud manusia-manusia shaleh dan bertakwa. “….sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku. (yaitu) Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS az-Zumar [39]: 17-18).

 

 

Footnote:

[1] Allah berfirman, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”

 

[2]Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

 

[3] Birha’ adalah nama sebuah kebun yang menjadi milik Abu Thalhah. Kebun ini termasuk kebun yang memberikan keuntungan besar kepada Abu Thalhah. Selain tempatnya yang berdapan-hadapan dengan masjid, kebun ini juga terbilang isitimewa karena sering disinggahi Rasulullah untuk mengambil air minum di dalamnya.

 

Oleh : Jauhar Ridzoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Kairo )

 

Share:
  • RSS
  • Facebook
  • email
  • Print