Abu Bakar Ra. sebenarnya sudah ingin sekali hijrah, menyusul para sahabat yang sudah berbondong-bondong meninggalkan Mekah menuju Madinah. Perlakuan kasar dan tak berprikemanusiaan dari kaum Musyrikin Qurasiy mendorong Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Namun khusus untuk Abu Bakar, Rasulullah masih menahannya.

“Janganlah kau terburu-buru, Abu Bakar,” sabda Rasul. “Mungkin Allah akan menjadikanmu sebagai teman perjalananku nanti,” lanjut Rasuullah. Mata Abu Bakar pun berbinar. Alangkah besar anugerah itu jika ia benar-benar dijadikan sebagai teman perjalanan hijrah Rasulullah. Ia pun tetap bersabar, sekaligus berdoa agar ucapan Rasulullah itu benar-benar menjadi kenyataaan.

Tak lama berselang. kesabaran Abu Bakar akhirnya berbuah manis. Pada malam ke-27 bulan Shafar, setelah perintah untuk hijrah turun, Rasulullah langsung menemuinya di rumahnya. “Allah telah mengizinkanku untuk hijrah,” ucap Nabi kepada Abu Bakar.

“Apakah saya yang akan menemani perjalanan engkau, Rasulullah?” tanya Abu Bakar hampir tak percaya. “Iya, Abu Bakar. Engkau yang akan menjadi teman perjalananku,” jawab Rasul.

Abu Bakar pun merasa sangat bahagia. Tak terasa, bulir-bulir air mata menetes dari kedua kelopak matanya tanpa bisa ia bendung. Aisyah Ra, putri tercinta Abu Bakar, menceritakan peristiwa ini seraya berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang yang menangis karena bahagia, melebihi apa yang saya lihat dari Abu Bakar saat itu.”

Cinta Abu Bakar telah menghilangkan ketakutannya terhadap pedang-pedang tajam kaum Musyrikin Qurash yang saat itu siap menebas leher siapa saja yang melindungi Nabi Muhammad. Perlu diketahui, semalam sebelum Rasul hijrah, kabilah-kabilah Quraisy telah bersepakat untuk menghabisi nyawa Rasul dengan pedang mereka secara bersamaan. Kesepakatan ini diambil supaya darah itu ditanggung oleh semua kabilah, sehingga dan tak ada yang berani membalasnya. Semua itu tak dipedulikan oleh Abu Bakar. Cintanya kepada Rasul menjadikan nyawa dan segala yang ia miliki siap ia pertaruhkan.

Perasaan ini pula yang dirasakan oleh Ali bin Abi Thalib ketika diminta Nabi Muhammad untuk menempati tempat tidur beliau, supaya bisa mengelabuhi kaum Musyrikin Quraisy. Jauh setelah kejadian itu, ketika Ali ditanya oleh para sahabatnya tentang peristiwa yang paling membanggakan dalam hidupnya, ia tidak menjawab, “ketika mampu menaklukan Yahudi di Khaibar”; atau “ketika menikah dengan Fatimah, putri Nabi”; atau bahkan “ketika diangkat menjadi khalifah”. Ali bin Abi Thalib justru menjawab, “Peristiwa yang paling membahagiakanku adalah ketika aku berbaring di tempat tidur Rasulullah, sedangkan kaum Quraish sedang menghunuskan pedang di untuk membunuh beliau.”

Dalam perjalanan menuju Gua Tsur, Rasulullah melihat keanehan pada diri Abu Bakar. Beberapa saat ia berjalan di depan Rasulullah, namun beberapa saat kemudian ia berjalan di belakangnya. Beberapa saat juga ia berjalan di samping kanan Rasul, namun kemudian berpindah ke sisi kiri beliau. Rasul tak bisa menyimpan rasa penasarannya seraya bertanya, “Abu Bakar, ada apa gerangan kamu melakukan semua ini?”

“Wahai Rasulullah,” jawab Abu Bakar, “Saat saya teringat bahwa Musyrikin Quraisy akan menikam engkau dari belakang, maka saya berjalan di belakangmu, begitu juga ketika saya teringat mereka akan menyerang engkau dari depan, dari samping kanan atau samping kiri, supaya saya terkena pedang itu terlebih dahulu, sehingga engkau bisa lari dan selamat.”

Rasulullah pun keheranan. “Wahai Abu Bakar, bukankah dengan begitu kamu lebih suka terkena pedang itu daripada mengenaiku?” tanya Rasul lagi. “Benar, Rasulullah. Demi Dzat yang mengutus engkau,  saya lebih suka tertusuk pedang itu daripada mengenai engkau. Engkau adalah masa depan umat ini,” jawab Abu Bakar.

Sesaat sebelum masuk Gua Tsur, episode kisah cinta ini berlanjut. Abu Bakar memaksa masuk terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam gua tersebut. “Wahai Rasulullah, biarkan saya masuk terlebih dahulu. Jika saja ada ular atau binatang buas di dalam sana, saya yang akan diserang, bukan engkau.”

Abu Bakar pun masuk. Setiap mendapati permukaan batu yang agak runcing atau sebuah lubang, Abu Bakar akan menyobek pakaiannya untuk menutupi batu dan lubang tersebut, hingga Rasululah tak merasakan kesakitan ketika masuk ke dalam gua. Perbuatannya inipun mengakibatkan kain bajunya habis untuk menutupi batu-batu itu.

Saat pagi hari, Rasulullah mendapati Abu Bakar tidak mengenakan baju, padahal saat itu adalah musim dingin yang sangat menusuk. “Mana bajumu, wahai Abu Bakar?” tanya Rasulullah. Abu Bakar pun menceritakan apa yang telah ia lakukan semalam. Rasulullah kemudian berdiri, tangan suci beliau diangkat tinggi-tinggi. “Ya Allah, tempatkanlah Abu Bakar di tempat yang sama denganku saat Hari Kiamat nanti.”Dengan pengorbanan dan cinta kasih itulah, Abu Bakar memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya pertemanan yang paling menentramkan bagiku adalah pertemanan dengan Abu Bakar. Jika saja aku boleh mengambil seorang teman akrab, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai teman dekatku.” Allahumma shalli ‘ala habîbina Muhammad wa ‘alâ âlihi wa ashhâbibi ajma’în.

 

Oleh : Jauhar Ridhoni Marzuq ( Kru QommunityRadio & Mahasiswa Al Azhar Mesir )

Share:
  • RSS
  • Facebook
  • email
  • Print