Seandainya banyak, Seandainya baru, Seandainya utuh
Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa, membangkitkan semangat atau menidurkan manusia dengan pulas. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu – selain Tuhan – tidak akan mampu melepaskan diri darinya. Demikian Malik Bin Nabi, seorang penulis tersohor di timur tengah mengungkapkan urgensi waktu dalam kehidupan manusia.
Dikisahkan suatu ketika sahabat Nabi menderita sakit parah. Para sahabat pun menengoknya. Kebanyakan mereka adalah penduduk Madinah. Rasulullah Saw belum sempat menengoknya, hingga sahabat itu wafat. Seusai menguburkan jenazah, Rasulullah Saw bersama para sahabat duduk istirahat. Beliau bertanya, “ Adakah sesuatu yang ia katakan ?”
Para sahabat menjawab, “ menjelang wafat, ia mengatakan tiga kalimat. Kami tidak memahami apa maksudnya. Ketika itu, ia berkata, “ Seandainya banyak, seandainya baru, seandainya utuh.”
Rasulullah Saw menjelaskan maksud tersebut, lalu bersabda, “ Suatu ketika pada hari Jum’at ia bergegas berjalah menuju masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang pria yang buta. Tidak ada orang yang menuntunnya. Maka ia pun menuntun tangan pria buta itu menuju masjid. Ketika ajalnya tiba, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Maka ia pun berkata, “ Seandainya banyak.” Maksudnya, langkah-langkahnya menuntun orang buta menuju masjid itu lebih banyak lagi.
Pada hari yang lain di musim dingin yang menusuk tulang, ia berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan seorang pria yang hampir mati karena kedinginan. Saat itu, ia mengenakan baju dua lapis, yang satu baru dan yang satu lagi sudah lama. Maka ia pun memberikan bajunya yang lama untuk pria tadi. Menjelang wafatnya, ia melihat pahala kebaikannya itu. Ia pun berkata, “ Seandainya baru.” Maksudnya, andaikata baju yang diberikan kepada pria yang hampir mati itu adalah baju barunya.
Pada hari yang lain, ia pulang ke rumah dan menanyakan perihal makanan kepada istrinya. Istrinya langsung menyuguhkan sepotong roti jewawut kepadanya. Ketika hendak menyantap, di depan pintu ia melihat seorang musafir berkata, “ Aku lapar sekali.” Maka ia pun memberikan musafir itu setengah potong dari rotinya. Menjelang wafat, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Ia berkata, “Seandainya utuh.” Maksudnya, andaikata roti yang diberikannya itu utuh.
Berapa banyak waktu telah terbuang sia-sia, berlalu begitu saja kering tanpa makna. Berapa banyak peluang emas untuk kita terampas oleh waktu itu sendiri. Padahal kesempatan emas tidak lain adalah perwujudan nyata atas doa-doa yang kita panjatkan dalam rentan waktu yang panjang. Tidakkah kita menghabiskan setiap saat untuk diisi dengan usaha-usaha kebaikan yang bermakna dan berguna ?. Sebelum pada saatnya nanti tiba kita mengatakan, “ Seandainya..seandainya.
Oleh : Khoirul Fata, Lc ( Kru QommunityRadio Kairo )


Leave a Reply