<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Qommunity Radio Network &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://qommunityradio.net/category/kajian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qommunityradio.net</link>
	<description>Bersatu Mempererat Persaudaraan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 19:10:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Menebar Kasih Sayang</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2012/04/29/menebar-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2012/04/29/menebar-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 19:10:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=775</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa suatu hari Rasulullah Saw. pernah bercerita tentang seorang lelaki yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing. Mendengar cerita tersebut, para sahabat pun keheranan seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami mendapatkan pahala jika mengasihi binatang?” Rasulullah mengangguk, lalu bersabda, “Pada setiap hati yang lembab (makhluk hidup) ada pahala (bagi orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa suatu hari Rasulullah Saw. pernah bercerita tentang seorang lelaki yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing. Mendengar cerita tersebut, para sahabat pun keheranan seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami mendapatkan pahala jika mengasihi binatang?”<span id="more-775"></span></p>
<p>Rasulullah mengangguk, lalu bersabda, “Pada setiap hati yang lembab (makhluk hidup) ada pahala (bagi orang yang memberikan kasih sayang kepadanya).” (HR. Bukhari).</p>
<p>Dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda, “Seorang penyayang akan disayang Allah. Sayangilah penghuni bumi, niscaya engkau akan disayangi penghuni langit.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).</p>
<p>Hadis di atas menjelaskan hakikat Islam sebagai agama kedamaian dan kasih sayang. Bukan hanya kepada sesama Muslim, nilai-nilai kasih sayang yang dibawa oleh Islam juga ditujukan kepada semua manusia meski berbeda keyakinan. Bahkan juga kepada binatang, tumbuh-tumbuhan, dan semesta alam. Nilai-nilai kasih sayang inilah yang menjadi misi utama diutusnya Nabi Muhammad ke dunia. Allah Swt. berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya [21]: 107).</p>
<p>Kasih sayang bukanlah sekedar rasa empati, tapi lebih dari itu, kasih sayang adalah gejok hati untuk selalu memberi kebaikan kepada orang lain. Kasih sayang yang diajarakan oleh Rasulullah adalah keinginan hati untuk membahagiakan mereka yang kesusahan, memberikan rasa tentram bagi mereka yang kalut, menawarkan kedamaian bagi yang sedng gusar, dan memberikan kesejahteraan bagi mereka yang berada dalam penderitaan. Kasih sayang bisa diibaratkan seperti pancaran sinar matahari di waktu duha yang memberikan kehangatan dan kehidupan kepada seluruh alam raya tanpa berharap imbalan.</p>
<p>Di tengah persaingan hidup yang semakin keras, nilai-nilai kasih sayang sangat penting untuk selalu sebar dan kita aplikasikan. Anggapan sebagaian orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama kekerasan tidak pernah bisa dibenarkan. Justru dengan kelembutan dan kasih sayanglah Islam diterima oleh masyarakat Arab pada awal-awal ia diturunkan. Allah Swt. berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran [3]:159).</p>
<p>Ketika nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan Islam telah kita laksanakan, Allah berjanji akan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita. Tahukah Anda apa yang akan kita dapatkan jika Allah menyayangi kita? Rasulullah menjawab dalam salah satu sabdanya, “Tidaklah amalan seseorang akan mampu membawanya masuk syurga atau membebaskannya dari neraka.”</p>
<p>“Apakah termasuk engkau juga, Rasulullah,” tanya sahabat.</p>
<p>“Iya, termasuk aku juga! Kecuali jika Allah melipahkan kepadaku karunia dan kasih sayang-Nya.” (HR Ahmad). <em>Wallahu a’lam bisshawab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Oleh : Jauhar Ridhoni Marzuq ( Kru QommunityRadio Kairo )<br />
</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2012/04/29/menebar-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperbanyak Sujud</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2012/01/16/memperbanyak-sujud/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2012/01/16/memperbanyak-sujud/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 14:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan oleh Rabiah bin Ka&#8217;ab al-Aslami, bahwa pada suatu malam ia pernah menyediakan seember air wudhu dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan Rasulullah SAW. Melihat kebaikan yang dilakukan oleh Rabiah, Rasulullah berkata kepadanya, &#8220;Mintalah sesuatu dariku, wahai Rabiah.&#8221; Rabiah pun menyebutkan permintaannya. &#8220;Wahai Rasulullah, aku minta agar Allah menjadikanku sebagai pendampingmu di surga kelak.&#8221; Rasulullah bertanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan oleh Rabiah bin Ka&#8217;ab al-Aslami, bahwa pada suatu malam ia pernah menyediakan seember air wudhu dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan Rasulullah SAW. Melihat kebaikan yang dilakukan oleh Rabiah, Rasulullah berkata kepadanya, &#8220;Mintalah sesuatu dariku, wahai Rabiah.&#8221;<span id="more-760"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Rabiah pun menyebutkan permintaannya. &#8220;Wahai Rasulullah, aku minta agar Allah menjadikanku sebagai pendampingmu di surga kelak.&#8221; Rasulullah bertanya lagi, &#8220;Apakah tak ada permintaan selain itu?&#8221;"Tidak ada, wahai Baginda Nabi. Hanya itu yang ingin aku minta darimu,&#8221; jawab Rabiah. &#8220;Jika demikian, maka jagalah dirimu untuk memperbanyak sujud.&#8221; (HR Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Sujud pada hakikatnya bukanlah sekadar gerakan dan ritual yang ada dalam shalat. Lebih dari itu, sujud adalah salah satu bentuk kepasrahan secara total dengan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan keagungan Allah yang Mahakuasa. Sujud merupakan bentuk pengharapan rida dan cinta dari Zat Yang Maha Melihat, serta bentuk syukur atas beragam nikmat Allah, dan kecemasan dari azab Allah yang Mahadahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sujud ialah bukti keimanan seorang Mukmin. &#8220;Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera bersujud seraya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka tidak menyombongkan diri.&#8221; (QS al-Sajdah [32]: 15).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, sujud juga merupakan bukti nikmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. &#8220;Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya&#8217;qub), dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.&#8221; (QS Maryam [19]: 58).</p>
<p style="text-align: justify;">Sujud juga momen paling intim antara seorang hamba dengan Tuhannya. &#8220;Sesungguhnya saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud.&#8221; (HR Muslim). Karena sujudlah, seorang manusia mendapat predikat Ibadurrahman, hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang, dan dijamin masuk surga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan, mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.&#8221; (QS al-Furqan [25]: 63-64).</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sujud pula Allah mengangkat derajat para sahabat Rasul dan menjadikan mereka sebagai golongan paling mulia dalam sejarah umat manusia. &#8220;Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan, orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.&#8221; (QS al-Fath [48]: 39). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : Jauhar Ridhoni Marzuq ( Kru QommunityRadio Kairo )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2012/01/16/memperbanyak-sujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya banyak, Seandainya baru, Seandainya utuh</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2012/01/09/seandainya-banyak-seandainya-baru-seandainya-utuh/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2012/01/09/seandainya-banyak-seandainya-baru-seandainya-utuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 19:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa, membangkitkan semangat atau menidurkan manusia dengan pulas. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu – selain Tuhan – tidak akan mampu melepaskan diri darinya. Demikian Malik Bin Nabi, seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa, membangkitkan semangat atau menidurkan manusia dengan pulas. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu – selain Tuhan – tidak akan mampu melepaskan diri darinya. Demikian Malik Bin Nabi, seorang penulis tersohor di timur tengah mengungkapkan urgensi waktu dalam kehidupan manusia<span id="more-754"></span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan suatu ketika sahabat Nabi menderita sakit parah. Para sahabat pun menengoknya. Kebanyakan mereka adalah penduduk Madinah. Rasulullah Saw belum sempat menengoknya, hingga sahabat itu wafat. Seusai menguburkan jenazah, Rasulullah Saw bersama para sahabat duduk istirahat. Beliau bertanya, “ Adakah sesuatu yang ia katakan ?”</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat menjawab, “ menjelang wafat, ia mengatakan tiga kalimat. Kami tidak memahami apa maksudnya. Ketika itu, ia berkata, “ Seandainya banyak, seandainya baru, seandainya utuh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah Saw menjelaskan maksud tersebut, lalu bersabda, “ Suatu ketika pada hari Jum’at ia bergegas berjalah menuju masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang pria yang buta. Tidak ada orang yang menuntunnya. Maka ia pun menuntun tangan pria buta itu menuju masjid. Ketika ajalnya tiba, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Maka ia pun berkata, “ Seandainya banyak.” Maksudnya, langkah-langkahnya menuntun orang buta menuju masjid itu lebih banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari yang lain di musim dingin yang menusuk tulang, ia berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan seorang pria yang hampir mati karena kedinginan. Saat itu, ia mengenakan baju dua lapis, yang satu baru dan yang satu lagi sudah lama. Maka ia pun memberikan bajunya yang lama untuk pria tadi. Menjelang wafatnya, ia melihat pahala kebaikannya itu. Ia pun berkata, “ Seandainya baru.” Maksudnya, andaikata baju yang diberikan kepada pria yang hampir mati itu adalah baju barunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari yang lain, ia pulang ke rumah dan menanyakan perihal makanan kepada istrinya. Istrinya langsung menyuguhkan sepotong roti jewawut kepadanya. Ketika hendak menyantap, di depan pintu ia melihat seorang musafir berkata, “ Aku lapar sekali.” Maka ia pun memberikan musafir itu setengah potong dari rotinya. Menjelang wafat, ia melihat pahala dari kebaikannya itu. Ia berkata, “Seandainya utuh.” Maksudnya, andaikata roti yang diberikannya itu utuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Berapa banyak waktu telah terbuang sia-sia, berlalu begitu saja kering tanpa makna. Berapa banyak peluang emas untuk kita terampas oleh waktu itu sendiri. Padahal kesempatan emas tidak lain adalah perwujudan nyata atas doa-doa yang kita panjatkan dalam rentan waktu yang panjang. Tidakkah kita menghabiskan setiap saat untuk diisi dengan usaha-usaha kebaikan yang bermakna dan berguna ?. Sebelum pada saatnya nanti tiba kita mengatakan, “ Seandainya..seandainya.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : Khoirul Fata, Lc ( Kru QommunityRadio Kairo )</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2012/01/09/seandainya-banyak-seandainya-baru-seandainya-utuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Yusuf dan Potret Dai Selebritis</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/12/16/abu-yusuf-dan-potret-dai-selebritis/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/12/16/abu-yusuf-dan-potret-dai-selebritis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 22:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari al-Kufi al-Baghdadi, atau lebih dikenal dengan Abu Yusuf al-Qadhi (w. 182 H). Abu Yusuf adalah salah seorang murid Imam Abu Hanifah yang sangat brilian. Saking briliannya, dia pernah menduduki posisi hakim negara pada masa Dinasti Abbasiyah selama tiga periode berturut-turut, yaitu pada masa Khalifah Muhammad bin Mansur al-Mahdi, Khalifah Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Namanya Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari al-Kufi al-Baghdadi, atau lebih dikenal dengan Abu Yusuf al-Qadhi (w. 182 H). Abu Yusuf adalah salah seorang murid Imam Abu Hanifah yang sangat brilian. Saking briliannya, dia pernah menduduki posisi hakim negara pada masa Dinasti Abbasiyah selama tiga periode berturut-turut, yaitu pada masa Khalifah Muhammad bin Mansur al-Mahdi, Khalifah Abu Muhammad al-Hadi dan Khalifah Harun al-Rasyid<span id="more-746"></span>.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Diceritakan bahwa Abu Yusuf adalah seorang ulama yang sangat sedikit tidur malam. Suatu hari seorang muridnya pernah bertanya, “Wahai Guru, kenapa Anda tidak tidur?” Abu Yusuf pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku bisa tidur, sedangkan kaum Muslimin bisa tidur nyenyak karena mereka menyerahkan masalahnya kepadaku?! Jika aku tidur, maka aku telah menghilangkan agama ini (Islam).”</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Bukan hanya itu, bahkan di saat ajal hampir menjeputnya; ketika Abu Yusuf sudah terbaring lemah tak berdaya, ia masih berusaha memecahkan sebuah masalah tentang tata cara pelemparan jumrah yang sempat ditanyakan oleh masyarakat kepadanya. Ibrahim bin al-Jarrah, yang merupakan murid dekat Abu Yusuf pun keheranan sambil berkata: “Masih sempat-sampatnya Anda membicarakan masalah itu di tengah kondisi seperti ini?!”</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Namun apa jawabannya Abu Yusuf? Dengan tenang ia menjawab, “Saya tidak mempunyai masalah apa-apa, Ibrahim. Mari kita selesaikan masalah ini. Semoga dengan ini kita bisa menyelamatkan salah seorang dari kesesatan.” Tak lama setelah masalah itu terpecahkan, Abu Yusuf pun menghembuskan nafas terakhirnya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Abu Yusuf tentu merupakan saeorang ulama sejati, yaitu ulama yang benar-benar menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan. Jika ulama adalah ahli waris misi dan fungsi kenabian, maka para ulama sejatinya harus selalu membawa misi-misi kenabian yang dijiwai oleh nilai tauhid dan keikhlasan. Sebagai seorang ulama, Abu Yusuf sangat paham bahwa masyarakat adalah amanah yang kelak akan dipertangung jawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, ia selalu berusaha untuk tidak melupakan mereka walaupun di detik-detik akhir kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Kondisi seperti inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kepedulian dan kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya tidak bisa ditandingi oleh siapapun, bahkan oleh orang tua kita sendiri. Ketika beberapa sahabat non-Quraisy kesulitan membaca al-Quran dengan bahasa Quraisy, Rasulullah memohon kepada Allah untuk memberikan keringanan, hingga akhirnya al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa. Di saat ajal hampir menjemput, Rasulullah tak lupa menasehati umatnya untuk selalu menjaga shalat lima waktu. Bahkan pada detik-detik hembusan akhir nafasnya, bibir suci Nabi Muhammad tak berhenti berucap, “<em>Ya Rabbi ummati, ummati</em>.”</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Seorang ulama, dai atau ustadz bukan sekadar orator yang ulung. Dia haruslah bisa menjadi sosok panutan, mempunyai kepedulian terhadap umat, dan mampu menjaga nilai-nilai agama hingga tidak tercampuri dengan urusan-urusan yang lebih condong bersifat duniawi.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Tulisan ini tak ingin mempermasalahkan acara kontes dai yang akhir-akhir ini sedang menjamur di Indonesia. Masalah itu menurut saya masih <em>debatable</em>, karena tergantung bagaimana kita memanfaatkan dan mengambil nilai positifnya. Yang membuat saya resah adalah munculnya dai-dai selebritis yang jauh dari kualitas keulamaan. Bukan hanya kualitas keilmuan agamanya yang di bawah standar pas-pasan, tapi juga karena komersialisasi dakwah dan perangai buruk yang diperagakan. Sehingga hal itu bukan mendukung misi dakwahnya, tapi justru menghancurkan nilai-nilai Islam yang didakwahkan. Kondisi semacam ini tentu sangat berbahaya, karena bisa melahirkan sikap apatis bahkan kebencian terhadap agama.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Saya tak habis pikir bagaimana bisa seorang dai, ulama, ustadz, kiyai, atau apapun itu namanya, memasang tarif puluhan juta rupiah untuk setiap kali memberikan ceramah?! Jika bayaran yang diberikan kurang dari harga yang dipatok, sang dai tak mau memberikan ceramah. Belum lagi, dai tersebut juga seperti selebritis yang memiliki manajer, sehingga konsultasi keagamaan dan lain sebagainya harus melalui manajer tersebut. Dengan demikian, ikatan antara dai dengan umat seperti ikatan bisnisman dengan pelanggannya, bukan seperti ikatan antara orang tua dan anak, guru dan murid, atau bahkan antara Nabi Muhammad dan para sahabat.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Dakwah kemudian bukan menjadi kewajiban atau amanah yang harus dijalankan dengan keikhlasan, tapi justru dijadikan alat untuk mendulang uang. Karunia Allah yang menjadikan mereka diterima masyarakat justru dimanfaatkan untuk mendulang popularitas. Mereka pun kemudian jadi artis dadakan. Saat muncul di infotainment, bukan nilai-nilai agama atau pengalaman mereka belajar agama yang menjadi topik wawancara, melainkan tentang rumah baru, mobil baru, koleksi sepatu baru, sampai motor besar seharga ratusan juta rupiah. Bahkan kehidupan pribadi mereka pun diekspos seluas-luasnya. Lebih memprihatinkan lagi, sang dai tak malu-malu menonton bisokop berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya di tengah sorotan kamera.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Tentu tak ada salahnya jika seorang dai mempunyai banyak harta dan kaya raya, selama kekayaan itu tidak didapatkan dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, menipu mencuri, dan lain sebagainya. Kekayaan itu justru bisa dijadikan penunjang aktifitas dakwah, seperti yang dilakukan oleh Ibunda Khadijah Ra, Abu Bakar al-Shiddiq Ra, dan Utsman bin Affan Ra.. Tapi secara akal sehat yang paling dangkal pun, sungguh tidak layak bagi seorang dai atau ustadz yang mengajarkan nilai-nilai luruh agama untuk pamer harta, bahkan pamer kemesraan seperti layaknya artis sinetron di layar infotainment.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Nabi Muhammad SAW yang seharusnya dijadikan panutan tak pernah hidup dalam kemewahan, walaupun beliau berkali-kali ditawari untuk menjadi seorang hartawan. Beliau dikenal sebagai sosok yang bersahaja, pemurah dan sederhana. Lagi pula, di negara kita masih ada puluhan juta rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan dan merasa sangat sulit untuk makan sekali dalam sehari saja. Bukannya menampakkan kepedulian seperti yang dilakukan oleh Abu Yusuf di atas, sang dai justru memasang tarif tinggi untuk bayaran ceramah dan memamerkan harta kekayaannya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Saya sebenarnya tak ingin berburuk sangka. Namun realita yang begitu jelas terlihat di depan mata membuat saya prihatin. Mau dikemanakan arah dakwah kita sekarang? Menjual ayat-ayat Allah untuk keuntungan yang sedikit (baca: urusan duniawi) adalah tindakan yang sangat dibenci dan dikecam oleh Allah SWT. “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.&#8221; (QS al-Maidah: 44).</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Sungguh, dakwah sejatinya adalah pekerjaan mulia yang pelakunya dijamin syurga oleh Allah SWT. Kedudukan seorang dai atau ulama sangat istimewa di hadapan Allah. Mereka adalah para penjaga agama dan pewaris risalah kenabian. Dalam al-Quran Allah secara tegas berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri’?” (QS Fussilat: 33).</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Namun kesuksesan misi dakwah tentu tak bisa lahir dari para dai yang tak memiliki ruh keikhlasan, apalagi memperjual belikan ayat-ayat Tuhan. Ruh keikhlasan dan <em>qudwah hasanah</em>, bagaimana pun juga, adalah modal utama memasuki dunia dakwah. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, hingga Abu Yusuf al-Qadhi dan ulama-ulama terdahulu lainnya. Semoga Allah selalu menanamkan benih keikhlasan dan menjauhkan kita dari fitnah dunia dan kemewahan yang melenakan. Amin.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Oleh : Jauhar Ridhoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Mesir &amp; Kru QommunityRadio Kairo )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/12/16/abu-yusuf-dan-potret-dai-selebritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta dalam Peristiwa Hijrah</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/12/16/kisah-cinta-dalam-peristiwa-hijrah/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/12/16/kisah-cinta-dalam-peristiwa-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 21:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[Abu Bakar Ra. sebenarnya sudah ingin sekali hijrah, menyusul para sahabat yang sudah berbondong-bondong meninggalkan Mekah menuju Madinah. Perlakuan kasar dan tak berprikemanusiaan dari kaum Musyrikin Qurasiy mendorong Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Namun khusus untuk Abu Bakar, Rasulullah masih menahannya. “Janganlah kau terburu-buru, Abu Bakar,” sabda Rasul. “Mungkin Allah akan menjadikanmu sebagai teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Abu Bakar Ra. sebenarnya sudah ingin sekali hijrah, menyusul para sahabat yang sudah berbondong-bondong meninggalkan Mekah menuju Madinah. Perlakuan kasar dan tak berprikemanusiaan dari kaum Musyrikin Qurasiy mendorong Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Namun khusus untuk Abu Bakar, Rasulullah masih menahannya<span id="more-739"></span>.</p>
<p style="text-align: justify">“Janganlah kau terburu-buru, Abu Bakar,” sabda Rasul. “Mungkin Allah akan menjadikanmu sebagai teman perjalananku nanti,” lanjut Rasuullah. Mata Abu Bakar pun berbinar. Alangkah besar anugerah itu jika ia benar-benar dijadikan sebagai teman perjalanan hijrah Rasulullah. Ia pun tetap bersabar, sekaligus berdoa agar ucapan Rasulullah itu benar-benar menjadi kenyataaan.</p>
<p style="text-align: justify">Tak lama berselang. kesabaran Abu Bakar akhirnya berbuah manis. Pada malam ke-27 bulan Shafar, setelah perintah untuk hijrah turun, Rasulullah langsung menemuinya di rumahnya. “Allah telah mengizinkanku untuk hijrah,” ucap Nabi kepada Abu Bakar.</p>
<p style="text-align: justify">“Apakah saya yang akan menemani perjalanan engkau, Rasulullah?” tanya Abu Bakar hampir tak percaya. “Iya, Abu Bakar. Engkau yang akan menjadi teman perjalananku,” jawab Rasul.</p>
<p style="text-align: justify">Abu Bakar pun merasa sangat bahagia. Tak terasa, bulir-bulir air mata menetes dari kedua kelopak matanya tanpa bisa ia bendung. Aisyah Ra, putri tercinta Abu Bakar, menceritakan peristiwa ini seraya berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang yang menangis karena bahagia, melebihi apa yang saya lihat dari Abu Bakar saat itu.”</p>
<p style="text-align: justify">Cinta Abu Bakar telah menghilangkan ketakutannya terhadap pedang-pedang tajam kaum Musyrikin Qurash yang saat itu siap menebas leher siapa saja yang melindungi Nabi Muhammad. Perlu diketahui, semalam sebelum Rasul hijrah, kabilah-kabilah Quraisy telah bersepakat untuk menghabisi nyawa Rasul dengan pedang mereka secara bersamaan. Kesepakatan ini diambil supaya darah itu ditanggung oleh semua kabilah, sehingga dan tak ada yang berani membalasnya. Semua itu tak dipedulikan oleh Abu Bakar. Cintanya kepada Rasul menjadikan nyawa dan segala yang ia miliki siap ia pertaruhkan.</p>
<p style="text-align: justify">Perasaan ini pula yang dirasakan oleh Ali bin Abi Thalib ketika diminta Nabi Muhammad untuk menempati tempat tidur beliau, supaya bisa mengelabuhi kaum Musyrikin Quraisy. Jauh setelah kejadian itu, ketika Ali ditanya oleh para sahabatnya tentang peristiwa yang paling membanggakan dalam hidupnya, ia tidak menjawab, “ketika mampu menaklukan Yahudi di Khaibar”; atau “ketika menikah dengan Fatimah, putri Nabi”; atau bahkan “ketika diangkat menjadi khalifah”. Ali bin Abi Thalib justru menjawab, “Peristiwa yang paling membahagiakanku adalah ketika aku berbaring di tempat tidur Rasulullah, sedangkan kaum Quraish sedang menghunuskan pedang di untuk membunuh beliau.”</p>
<p style="text-align: justify">Dalam perjalanan menuju Gua Tsur, Rasulullah melihat keanehan pada diri Abu Bakar. Beberapa saat ia berjalan di depan Rasulullah, namun beberapa saat kemudian ia berjalan di belakangnya. Beberapa saat juga ia berjalan di samping kanan Rasul, namun kemudian berpindah ke sisi kiri beliau. Rasul tak bisa menyimpan rasa penasarannya seraya bertanya, “Abu Bakar, ada apa gerangan kamu melakukan semua ini?”</p>
<p style="text-align: justify">“Wahai Rasulullah,” jawab Abu Bakar, “Saat saya teringat bahwa Musyrikin Quraisy akan menikam engkau dari belakang, maka saya berjalan di belakangmu, begitu juga ketika saya teringat mereka akan menyerang engkau dari depan, dari samping kanan atau samping kiri, supaya saya terkena pedang itu terlebih dahulu, sehingga engkau bisa lari dan selamat.”</p>
<p style="text-align: justify">Rasulullah pun keheranan. “Wahai Abu Bakar, bukankah dengan begitu kamu lebih suka terkena pedang itu daripada mengenaiku?” tanya Rasul lagi. “Benar, Rasulullah. Demi Dzat yang mengutus engkau,  saya lebih suka tertusuk pedang itu daripada mengenai engkau. Engkau adalah masa depan umat ini,” jawab Abu Bakar.</p>
<p style="text-align: justify">Sesaat sebelum masuk Gua Tsur, episode kisah cinta ini berlanjut. Abu Bakar memaksa masuk terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam gua tersebut. “Wahai Rasulullah, biarkan saya masuk terlebih dahulu. Jika saja ada ular atau binatang buas di dalam sana, saya yang akan diserang, bukan engkau.”</p>
<p style="text-align: justify">Abu Bakar pun masuk. Setiap mendapati permukaan batu yang agak runcing atau sebuah lubang, Abu Bakar akan menyobek pakaiannya untuk menutupi batu dan lubang tersebut, hingga Rasululah tak merasakan kesakitan ketika masuk ke dalam gua. Perbuatannya inipun mengakibatkan kain bajunya habis untuk menutupi batu-batu itu.</p>
<p style="text-align: justify">Saat pagi hari, Rasulullah mendapati Abu Bakar tidak mengenakan baju, padahal saat itu adalah musim dingin yang sangat menusuk. “Mana bajumu, wahai Abu Bakar?” tanya Rasulullah. Abu Bakar pun menceritakan apa yang telah ia lakukan semalam. Rasulullah kemudian berdiri, tangan suci beliau diangkat tinggi-tinggi. “Ya Allah, tempatkanlah Abu Bakar di tempat yang sama denganku saat Hari Kiamat nanti.”Dengan pengorbanan dan cinta kasih itulah, Abu Bakar memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya pertemanan yang paling menentramkan bagiku adalah pertemanan dengan Abu Bakar. Jika saja aku boleh mengambil seorang teman akrab, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai teman dekatku.” <em>Allahumma shalli ‘ala habîbina Muhammad wa ‘alâ âlihi wa ashhâbibi ajma’în.</em></p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Oleh : Jauhar Ridhoni Marzuq ( Kru QommunityRadio &amp; Mahasiswa Al Azhar Mesir )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/12/16/kisah-cinta-dalam-peristiwa-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog sebagai Upaya Memahami Perbedaan</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/10/16/dialog-sebagai-upaya-memahami-perbedaan/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/10/16/dialog-sebagai-upaya-memahami-perbedaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 16:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Saat Perang Parit hampir usai, Nabi Muhammad dan kaum Muslimin benar-benar dibuat geram oleh ulah Yahudi Bani Quraidhah. Setelah Kafir Quraish Makkah dan para sekutunya semakin putus asa untuk menembus pertahanan parit di sekeliling Madinah, Bani Quraidhah dimanfaatkan sebagai satu-satunya jalan untuk menembus pertahanan Kaum Muslimin. Dengan lobi licik Huyay bin Akhtab, mereka akhirnya mengingkari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Saat Perang Parit hampir usai, Nabi Muhammad dan kaum Muslimin benar-benar dibuat geram oleh ulah Yahudi Bani Quraidhah. Setelah Kafir Quraish Makkah dan para sekutunya semakin putus asa untuk menembus pertahanan parit di sekeliling Madinah, Bani Quraidhah dimanfaatkan sebagai satu-satunya jalan untuk menembus pertahanan Kaum Muslimin. Dengan lobi licik Huyay bin Akhtab, mereka akhirnya mengingkari perjanjian damai dengan Kaum Muslimin dan berbelok kepada Musyrikin Makkah.<span id="more-733"></span></p>
<p style="text-align: justify">Nabi Muhammad yang sempat “meletakkan senjata” pun ditegur oleh Jibril. “Kenapa kamu meletakkan senjata padahal para malaikat belum meletakkan senjata mereka?” ucap Jibril kepada Nabi. “Bangkitlah! Pergilah bersama bala tentaramu ke Bani Quraidhah. Sesungguhnya aku akan menguncangkan benteng-benteng mereka. Dan aku tancapkan ketakutan di hati mereka.”</p>
<p style="text-align: justify">Nabi pun mengumpulkan Kaum Muslimin. Satu kompi pasukan dengan pimpinan Ali bin Abi Thalib dikirim untuk menyelesaikan penghianatan ini. Beliau kemudian menyuruh seorang dari mereka untuk berseru, “Barang siapa yang mendengar dan mematuhi perintahku, maka janganlah salah satu di antara kalian shalat Ashar kecuali di pemukiman Bani Quraidhah.”</p>
<p style="text-align: justify">Namun hingga matahari hampir terbenam, pasukan yang dikirim Rasul ternyata belum sampai di pemukiman Bani Quraidhah. Mereka pun berselisih pada dua pendapat. Sebagian shalat Ashar di tempat itu karena takut kehilangan waktu Ashar, sedangkan  sebagian lainnya meneruskan perjalanan dan tidak akan shalat Ashar kecuali ketika tiba di pemukiman Bani Quraidhah meskipun waktu Ashar telah lewat.<br />
Usai berakhirnya misi penyerangan Bani Quraidhah, mereka menanyakan hal ini kepada Rasulullah. Di luar dugaan, ternyata Rasulullah membenarkan keduannya. Rasulullah tidak menyalahkan salah satu di antara mereka.<br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong>Perbedaan sebagai Hukum Tuhan</strong></p>
<p style="text-align: justify">Islam adalah agama fitrah, dan fitrah manusia tercipta memiliki perbedaan. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13).</p>
<p style="text-align: justify">Sebab itulah Islam sangat menghormati perbedaan. Bukan hanya perbedaan dalam ruang lingkup hubungan Islam dengan keyakinan lainnya yang tercermin dari perintah untuk menghormati keyakinan orang lain, tapi juga dalam lingkup hubungan antara sesama Muslim yang tercermin dari anjuran untuk selalu membuka ruang ijtihad. Peristiwa yang saya paparkan adalah bukti otentik yang bisa dijadikan rujukan bahwa Islam sangat menghargai perbedaan. Jika dalam hal-hal prinsipil seperti shalat saja Rasulullah memberikan kelonggaran untuk berbeda pendapat, maka dalam hal-hal lain, kemungkinannya menjadi lebih longgar.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam risalah “Da’watuna”, Hasan al-Banna, pendiri dan tokoh utama Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa perbedaan adalah hukum Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Usaha untuk menyamakan pendapat dan menghilangkan perbedaan adalah proyek yang mustahil untuk direalisasikan. Bahkan keinginan itu bertentangan dengan esensi agama yang memang “disetting” fleksibel dan mudah, sehingga bisa diterapkan di segala tempat, ruang dan waktu. Penyebab perbedaan pendapat dalam Islam, menurut al-Banna bisa disimpulkan dari lima hal:</p>
<p style="text-align: justify"><em>Pertama</em>, perbedaan tingkat kecerdasan dan kemampuan untuk menyimpulkan suatu permasalahan. Hal ini berkaitan erat dengan perbedaan manusia dalam merangkai data dan mendalami makna yang terkandung dalam teks-teks al-Quran dan Hadis. Jika setiap orang mempunyai tingkat intelektualitas yang berbeda, maka hasil kesimpulan yang mereka keluarkan pun berbeda. Karena pada hakikatnya, pemikiran keagamaan adalah kumpulan dari nash-nash al-Quran dan Hadis yang diinterpretasi oleh akal manusia.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Kedua</em>, perbedaan dalam wawasan keilmuan. Meski hampir sama dengan sebelumnya, tapi sebab kedua ini memiliki sedikit perbedaan dari apa yang telah disebutkan di atas. Tingkat kecerdasan adalah pemberian Allah yang “taken from granted”, sedangkan wawasan keilmuan lebih disebabkan usaha setiap individu untuk belajar dan menerima ragam pengetahuan.</p>
<p style="text-align: justify">Seseorang yang telah menerima berita tentang sebuah peristiwa, tentu akan memiliki kesimpulan yang berbeda dengan orang yang belum menerima berita tentang peristiwa yang sama. Pada poin ini, Hasan al-Banna memberikan contoh perkataan Imam Malik kepada Abu Ja’far Mansur ketika disuruh untuk menyatukan pandangan kaum Muslimin agar mengamalkan isi “al-Muwatta’” yang ditulisnya. Saat itu Imam Malik menolak dan berkata, “Sesungguhnya para Shahat Nabi berpencar dalam beberapa tempat, dan setiap dari mereka memiliki ilmunya masing-masing. Jika saya mengharuskan mereka pada satu pendapat saja, maka ini akan menjadi fitnah.”</p>
<p style="text-align: justify"><em>Ketiga</em>, perbedaan lingkungan dan permasalahan yang dihadapi. Contoh paling dekat dengan faktor ketiga ini adalah perbedaan fatwa yang dikeluarkan oleh Imam Syafii saat ia berada di Irak dan di Mesir. Meski mengeluarkan “al-Qaul al-Jadîd” yang berbeda dengan “al-Qaul al-Qadîm”, tapi Imam Syafii tak kemudian menganggap al-Qaul al-Qadim yang ia fatwakan di Irak dibatalkan. Karena memang lingkungan dan permasalahan yang dihadapi di Irak berbeda dengan yang ada di Mesir. Al-Qaul al-Jadîd dan al-Qaul al-Qadîm tetap digunakan dengan konteks dan permasalahannya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Keempat</em>, perbedaan cara pandang terhadap sebuah dalil. Penyebab ini, menurut penulis erat kaitannya dengan subjektifitas seorang ulama, yaitu kecondongan hati mereka dalam menilai sebuah dalil. Sebuah Hadis, misalnya, dianggap kuat oleh seorang ulama, namun dinggap kurang kuat oleh ulama lainnya, karena perbedaan kedua ulama tersebut dalam menilai sang perawi. Bagi ulama pertama, Hadis itu dianggap kuat karena perawinya dianggap terpercaya, sedangkan ulama yang kedua menganggapnya kurang kuat karena perawi Hadis tersebut dinilai tidak terpercaya.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Kelima</em>, perbedaan dalam menerima sebuah dalil. Hal ini dapat dicontohkan dalam permasalahan Hadis Ahad, misalanya. Ulama yang menganggapnya sebagai landasan hukum, tentu akan memiliki perbedaan hasil ijtihad dengan mereka yang tidak menerima Hadis Ahad sebagai landasan hukum. Penyebab inilah yang membuat Imam Malik lebih mengedepankan kebiasaan para penduduk Madinah daripada Hadis Ahad untuk dijadikan landasan hukum.</p>
<p style="text-align: justify">Selain lima sebab di atas, lebih jauh lagi, Yusuf al-Qaradhawi yang merupakan salah satu murid didikan madrasah Hasan al-Banna, mengganggap perbedaan dalam masalah furuiyyah sebagai sebuah keharusan telogis (al-dharuriyyah al-diniyyah), keharusan linguistis (<em>al-dharuriyyah al-lughawiyyah</em>), keharusan humanistis (<em>al-dharuriyyah al-basyariyyah</em>) dan keharusan kosmis (<em>al-dharuriyah al-kuniyyah</em>).</p>
<p style="text-align: justify">Sebagai keharusan teologis, perbedaan dalam memandang sebuah masalah terlahir dari adanya ayat “Mutasyâbihat” yang memang sengaja diturunkan oleh Allah Swt dalam al-Quran. Jika ayat mutasyabihat dianggap mengandung ragam interpretasi dan penafsiran, maka perbedaan penafsiran dalam hal ini menjadi kenyataan yang tidak akan bisa dielakkan.</p>
<p style="text-align: justify">Selain merupakan keharusan teologis, al-Qaradhawi juga menggangap perbedaan pendapat sebagai keharusan linguistis. Maksud dari poin ini adalah bahwa ajaran agama yang merupakan bangunan yang berdiri di atas teks-teks bahasa, mau tak mau harus bersentuhan juga dengan perbedaan kaidah bahasa yang ada. Jika dalam bahasa Arab ada majaz, hakikah dan lain sebagainya, maka perbedaan dalam menyimpulkan sebuah hukum pun akan berbeda. Sebuah teks bisa diartikan dengan makna sebenarnya oleh golongan tertentu, namun bisa juga diartikan dengan makna kiasan atau majazi oleh golongan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify">Sedangkan sebagai keharusan humanistis, mengacu pada fitrah manusia yang memang diciptakan beragam. Seorang yang terlahir dengan watak keras akan berbeda dengan orang yang terdidik dalam lingkungan yang toleran, sehingga apa yang mereka hasilkan pun beragam.<br />
Dan yang terakhir adalah perbedaan sebagai keharusan kosmis yang mengacu pada hukum alam semesta yang memang diciptakan atas hukum kergamanan (<em>at-tanawwyu’</em>). Jika manusia adalah bagian dari alam semesta, maka mereka pun akan tunduk dengan hukum alam tersebut. Perbedaan antara mereka pun menjadi hal yang alamiah.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Minimnya Pemahaman Agama Picu Ekstremisme</strong></p>
<p style="text-align: justify">Meski menjadi sebuah keharusan yang tak akan bisa dihindarkan, tapi tak semua orang bisa menerima perbedaan. Dalam menerima perbedaan ini, kita bisa membagi Kaum Muslimin menjadi dua golongan: Golongan moderat dan ekstremis. Golongan moderat adalah mereka yang menerima perbedaan dengan sikap toleran selama tidak menyentuh hal-hal yang fundamental dalam agama. Dalam hal inilah Imam al-Syafii pernah berujar, “Pendapatku benar namun bisa jadi salah. Sedangkan pendapat selainku salah namun bisa jadi benar.”</p>
<p style="text-align: justify">Sedangkan golongan ekstremis terbagi menjadi dua: ekstremis kanan yang diidentikan dengan golongan puritan dan radikal; dan ekstremis kiri yang dianggap terlalu longgar sehingga menjadi liberal dan kebablasan.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam bukunya “as-Shahwah Islamiyah baina al-Jumud wal Tatharruf”, al-Qaradhawi menganggap penyebab utama lahirnya ekstremisme adalah pemahaman yang dangkal terhadap ajaran agama. Pemahaman dangkal bukan berarti tidak tahu sama sekali, tapi mengetahui sebuah masalah hanya dari sudut sempit dan tidak menyeluruh. Keadaan seperti ini mengakibatkan kesalahan dalam memandang sebuah permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify">Masalah <em>furuiyyah</em>, misalnya, karena kedangkalan ilmu seseorang, dianggap sebagai masalah <em>ushuliyyah</em> sehingga tak diperbolehkan berbeda pendapat. Sebaliknya, masalah <em>ushuliyyah</em> kadang dianggap sebagai masalah <em>furuiyyah</em> sehingga memberikan kelonggaran dan toleransi yang berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Dialog sebagai Upaya Pemersatu</strong></p>
<p style="text-align: justify">Jika perbedaan tak bisa dihilangkan atau dileburkan, maka upaya untuk “mensiasati” perbedaan itu adalah dengan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada untuk diambil benang merah. Proses inilah yang disebut sebagai “Fiqh I’tilaf”; yaitu sebuah upaya untuk memahami perbedaan agar bisa diambil titik temu, sehingga bisa disatukan, bukan dihilangkan.</p>
<p style="text-align: justify">Selain dengan memhamani ajaran agama secara mendalam dan menyeluruh, sehingga mampu menempatkan sebuah permasalahan tepat pada tempatnya, dialog juga menjadi upaya yang sangat penting untuk memahami perbedaan. Seperti yang dituturkan oleh Ali Jumah dalam “Wa Qala al-Imam”, dialog adalah sebuah upaya untuk memperoleh penjelasan dan mengungkap sebuah kebenaran. Seseorang yang berdialog berarti ingin membenarkan pemahamannya, sekaligus ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan orang yang berbeda pendapat dengannya. Dialog menjadi upaya yang sangat urgen karena banyaknya konflik yang terjadi sebenarnya timbul bukan karena perbedaan</p>
<p style="text-align: justify">pendapat, tapi karena kesalahan kita dalam memahami orang yang berbeda dengan kita.<br />
Jika ingin mencari legitimasi dalam Islam, dialog bukan hal baru dalam Islam. Kita justru akan tercengang karena dialog merupakan “ajaran” yang sudah ada sejak awal penciptaan manusia, yaitu ketika Malaikat “berdialog” dengan Allah tentang penyebab penciptaan Nabi Adam As.<br />
Dengan dialog inilah kita bisa mencari titik temu antar perbedaan. Jika benang merah telah ditemukan, budaya toleransi akan timbul dengan sendirinya. Dengan toleransi, perbedaan bukan lagi menjadi bencana, tapi akan menjadi anugerah yang rahmat Allah yang harus kita syukuri. <em>Wallahu a’la wa a’lam.</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( Kru QommunityRadio &amp; Mahasiswa Al Azhar )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/10/16/dialog-sebagai-upaya-memahami-perbedaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persaksian yang Adil</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/10/09/persaksian-yang-adil/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/10/09/persaksian-yang-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 17:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tak ada prinsip yang didambakan umat manusia sepanjang sejarah seperti apa yang mereka dambakan terhadap terciptanya keadilan. Karena itulah, salah satu tujuan utama diutusnya para rasul sejak zaman Adam As hingga Muhammad SAW adalah untuk mengajarkan manusia supaya menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tak ada prinsip yang didambakan umat manusia sepanjang sejarah seperti apa yang mereka dambakan terhadap terciptanya keadilan. Karena itulah, salah satu tujuan utama diutusnya para rasul sejak zaman Adam As hingga Muhammad SAW adalah untuk mengajarkan manusia supaya menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS al-Hadid [57]: 25).<span id="more-722"></span></p>
<p style="text-align: justify">Dan salah satu masalah yang sangat penting untuk diterapkan keadilan adalah persaksian. Kenapa demikian? Jawabannya, karena persaksian adalah dasar dari sebuah kebenaran. Persaksian memiliki peran penting dalam menetapkan vonis atas sebuah kasus hukum. Persaksian yang salah akan berdampak pada pemutarbalikan kebenaran atau hilangnya kebenaran itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify">Di negara kita, berapa banyak penyelesaian kasus yang terseok-seok atau tak terselesaikan dikarenakan ‘ulah’ seorang saksi. Ada yang mengaku lupa, pura-pura tak tahu, hingga kabur ke luar negeri dan mangkir untuk memberikan kesaksian.</p>
<p style="text-align: justify">Untuk mengatur masalah ini al-Quran sebenarnya telah memberikan penjelasan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan; menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS an-Nisa [4]: 135).</p>
<p style="text-align: justify">Dari ayat tersebut, persaksian yang adil setidaknya mencakup tiga hal: pertama, bersaksi karena Allah. Bersaksi karena Allah berarti bersaksi atas dasar kebenaran, walaupun kebenaran itu akan berdampak negatif pada dirinya sendiri, orang tuanya, kerabat serta keluargannya. Orang yang bersaksi karena Allah tidak pandang bulu, semua orang diperlakukan sama di depan hukum.</p>
<p style="text-align: justify">Kedua, tidak mengikuti hawa nafsu, karena orang yang mengikuti hawa nafsu akan berbuat semaunya, memutar balikkan fakta dan memberikan kesaksian dusta (syahadah al-zur). “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (al-Hajj [22]: 30).</p>
<p style="text-align: justify">Ketiga, tidak menyembunyikan kesaksian. Seorang saksi yang adil tak akan enggan untuk memberikan kesaksian, tidak tutup mulut, tidak pura-pura lupa, atau mengkir dari panggilan untuk memberikan kesaksian. Allah berfirman, “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS al-Baqarah [2]: 282). “Dan janganlah kamu menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya,” (QS al-Baqarah [2]: 283). Wallahu a’lam bisshawab.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( Kru QommunityRadio &amp; Mahasiswa Al Azhar )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/10/09/persaksian-yang-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Belas Rekayasa al-Jabiri terhadap al-Quran (Sebuah Resensi)</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/09/28/dua-belas-rekayasa-al-jabiri-terhadap-al-quran-sebuah-resensi/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/09/28/dua-belas-rekayasa-al-jabiri-terhadap-al-quran-sebuah-resensi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 07:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Abid al-Jabiri adalah salah satu pemikir Arab kontemporer yang proyek pemikirannya sangat diperhitungkan, baik di dunia Islam maupun Barat. Pemikirannya yang dianggap sekular-liberal sempat menggemparkan dunia pemikiran Arab dan Islam, termasuk Indonesia. Selain proyek rekonstruksi nalar Arab melalui tetralogi “Takwîn al-&#8217;Aql al-Arabi” (1984), “Binyah al-&#8217;Aql al-&#8217;Arabi” (1986), “al-&#8217;Aql al-Siyâsi al-&#8217;Arabi” (1990), dan “al-&#8217;Aql al-Akhlâqi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Muhammad Abid al-Jabiri adalah salah satu pemikir Arab kontemporer yang proyek pemikirannya sangat diperhitungkan, baik di dunia Islam maupun Barat. Pemikirannya yang dianggap sekular-liberal sempat menggemparkan dunia pemikiran Arab dan Islam, termasuk Indonesia. Selain proyek rekonstruksi nalar Arab melalui tetralogi “Takwîn al-&#8217;Aql al-Arabi” (1984), “Binyah al-&#8217;Aql al-&#8217;Arabi” (1986), “al-&#8217;Aql al-Siyâsi al-&#8217;Arabi” (1990), dan “al-&#8217;Aql al-Akhlâqi al-&#8217;Arabi: Dirâsah Tahlîliyyah Naqdiyyah li Nudhum al-Qiyam fi Tsaqâfah al-&#8217;Arabiyyah”, proyek kajian al-Quran al-Jabiri yang tercakup dalam “al-Madkhal ila al-Qurân al-Karîm” dan “Fahm al-Qurân al-Hakîm: at-Tafsîr al-Wâdhih hasba Tartîb an-Nuzūl” juga sempat membuat benturan hebat (shadamah) dalam wacana pemikiran Islam kontemporer.<span id="more-713"></span></p>
<p style="text-align: justify">Al-Jabiri memang telah meninggal pada Mei 2010 lalu, tapi proyek pemikiran yang dia usung tak akan pernah hilang. Proyek pemikiran itu akan selalu dibaca oleh orang setelahnya, dicetak ulang dan disebarkan. Inilah yang menggugah Muhammad Imarah untuk menggunakan haknya sebagai seorang pembaca –yang menurut al-Jabiri memiliki hak untuk mendukung atau mengkritik pemikirannya. Karena mengganggap banyak membentur nilai-nilai kesakralan al-Quran dan ajar fundamental dalam Islam, Muhammad Imarah pun mengambil haknya untuk mengkritik proyek studi al-Quran versi al-Jabiri ini. Buku bantahan ini diberi judul “Radd Iftirâ’ât al-Jâbiri ala al-Qurân al-Karîm” (Bantahan terhadap rekayasa al-Jabiri atas al-Quran al-Karim).</p>
<p style="text-align: justify">Penggunaan kata “iftirâ’ât” memang terkesan kasar. Muhammad Imarah tidak membeberkan alasannya menggunakan kata itu untuk menamai proyek studi al-Quran versi al-Jabiri ini. Namun dalam pendahuluan buku ini, secara implisit dapat dipahami bahwa penggunaan kata ini terinspirasi dari disertasi doktoral yang ditulis oleh salah seorang mahasiswa asal Maroko di Universitas Kairo tentang “Metode Pembaharuan Pemikiran Islam Kontemporer di Maroko”. Saat itu, Muhammad Imarah kebetulan mendapat kesempatan untuk menguji disertasi tersebut, sehingga dia bisa lebih banyak tahu tentang pemikiran al-Jabiri yang sempat berselisih pendapat dengannya dalam salah satu muktamar yang diadakan oleh “Markaz Dirâsat al-Wahdah al-‘Arabiyyah” di Kairo.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam seminar itu, Muhammad Imarah mengkritisi proyek “pembaharuan nalar Arab” al-Jabiri yang dianggap sangat kontroversial. Dalam proyeknya al-Jabiri menganggap kebangkitan masyarkat Arab tak akan bisa diraih kecuali dengan memperbaharui daya nalar mereka. Pembaharuan nalar Arab itu hanya bisa dilakukan dengan menghapus seluruh warisan keilmuan (al-turats) yang telah diwariskan oleh para pendahulu, baik yang berhubungan dengan bahasa, syariat, akidah, hingga politik. Bukan hanya membuangnya ke dalam rerentuhan sejarah, al-Jabiri juga menganggap bahwa kebangkitan Arab tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan mengikuti modernitas Eropa dalam segala bidang.</p>
<p style="text-align: justify">Proyek ini dianggap Muhammad Imarah sangat kontroversial –bahkan hampir tak masuk akal&#8211;karena warisan pendahulu adalah karakteristik dari suatu peradaban dan merupakan pondasi kuat untuk menghadapi modernitas serta membangun kemajuan. Peradaban besar manapun –bahkan komunis&#8211; tidak akan bisa maju dengan menghilangkan warisan mereka. Peradaban Barat yang terlihat memiliki keterputusan epistemologis dengan warisan mereka –karena mengganti secara radikal warisan agama Kristen dengan “agama baru”&#8211; pada dasarnya tidak membangun peradaban mereka dengan pondasi kosong. Mereka tetap memiliki pondasi lain yaitu dengan menghidupkan kembali puing-puing warisan Yunani, terutama dalam bidang filafat, hukum, sastra dan seni. Dari warisan Yunani itulah mereka membangun kebangkitan peradaban mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Maka membuang warisan pendahulu berarti memberikan ruang kosong yang menjadi pondasi untuk menghadapi modernitas. Jika ini diterapkan dalam peradaban Islam, maka perlu ada pengganti untuk mengisi ruang kosong tersebut. Pengganti itu tak lain akan datang dari Barat sebagai peradaban yang saat ini menghegemoni. Kekosongan warisan bahasa akan diganti dengan bahasa Eropa; kekosongan warisan filsafat Islam (tauhid) akan diisi dengan filsafat materialisme, positifisme dan ateisme; kekosongan warisan hukum syariat akan digantikan dengan produk hukum Eropa yang sekular-ateis.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah cukup panjang mengkritik proyek “penghapusan warisan” al-Jabiri, Muhammad Imarah kemudian beranjak kepada masalah inti penulisan buku ini, yaitu kritik dan bantahan terhadap dua belas rekayasa al-Jabiri terhadap al-Quran. Sebelum mengulas dua belas rekayasa tersebut, Muhammad Imarah tak lupa mekritik terlebih drulu metode yang digunakan al-Jabiri untuk menafsirkan al-Quran. Metode itu tak lain adalah rekonstruksi urutan al-Quran dari urutan berdasarkan pada Mushaf Utsmani menuju urutan baru sesuai periode turunnya al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify">Sebenarnya upaya untuk menerapkan metode penafsiran seperti ini bukan hal baru dalam sejarah studi al-Quran. Beberapa orientalis seperti Fischer, Prit, Barton, hingga Wansbroagh sudah pernah menggaungkan proyek ini selama hampir enam dekade, namun mereka gagal total.</p>
<p style="text-align: justify">Lalu kenapa al-Jabiri berusaha untuk menggagas ulang proyek gagal total itu? “Sesungguhnya tujuan kami mengurutkan al-Quran sesuai periode turunnya adalah untuk mengetahui proses pembentukan teks al-Quran berlandaskan pada proses perjalanan dakwah Nabi Muhammad,” tegas al-Jabiri. Upaya ini dianggap akan semakin memperjelas dan memudahkan umat Islam untuk memahami al-Quran. Dengan tujuan ini, al-Jabiri pun menyiapkan argumen ampuh untuk melegitimasi proyeknya. Jika untuk menata ulang urutan al-Quran sesuai periode turunnya tak bisa diketahui kecuali dengan ilmu “sabab nuzul”, maka –meski tanpa landasan yang jelas&#8211; al-Jabiri dengan berani menyatakan bahwa semua ayat al-Quran memiliki sebab penurunan (sabab nuzul). Alih-alih memberi keterangan dari ulama mana dia mendapatkan statemen itu, di tempat lain –dalam buku yang sama&#8211; al-Jabiri justru meruntuhkan argumennya sendiri, dengan mengatakan bahwa ayat al-Quran yang memiliki sabab nuzul hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan ayat al-Quran. Bahkan dari sedikit itupun banyak yang sebenarnya bukan sebab penurunan ayat, tapi penafsiran terhadap sebuah ayat atau perkiraan seorang perawi yang mengaitkan suatu ayat dengan kejadian tertentu. Jika demikian halnya, maka pondasi bangunan penafsiran al-Jabiri sebenarnya sangat rapuh. Sudah rapuh, dia pun menghancurkannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify">Jika dari sisi pondasi sudah runtuh dengan sendirinya, dari sisi tujuan diturunkannya al-Quran pun pengurutan al-Quran berdasarkan periode turunnya tak bisa dibenarkan. Menurut Imarah, hal ini dikarenakan al-Quran bukanlah sekedar kitab sejarah. Al-Quran adalah petunjuk bagi semua manusia di segala tempat dan zaman, demi kebaikan hidup dunia dan akhirat. Perjalanan sejarah hanyalah salah satu unsur dari beragam unsur yang terkandung dalam al-Quran. Maka mengurutkan al-Quran sesuai periode penurunannya akan menjadikan al-Quran terikat pada sejarah dan zaman penurunannya saja, kemudian ‘memomenkan&#8217;nya setelah zaman itu berlalu. Belum lagi, urutan seperti ini juga menyelisihi urutan al-Quran seperti yang tertulis di Lauh Mahfudz dan disampaikan secara mutawattir kepada umat Islam hingga saat ini.</p>
<p style="text-align: justify">Untuk memudahkan pembaca mengetahui dua belas rekayasa al-Jabiri terhadap al-Quran, Muhammad Imarah mengklasifikasikannya menjadi dua bagian: al-Akhtâ’ (kesalahan) dan al-Khatâya (dosa). al-Akhtâ’ adalah kesalahan-kesalahan yang dianggap oleh Muhammad Imarah ‘masih wajar’ jika keluar dari seorang ilmuwan Muslim, sehingga masih bisa ditolelir dan dimungkinkan adanya dialog. Sedangkan Khatâya adalah kesalahan-kesalahan yang ‘sangat aneh’ jika keluar dari seorang ilmuwan Muslim. Bahkan seorang orientalis yang moderat pun tak sepatutnya bisa terjebak dalam kesalahan seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kategori al-akhtâ’ Muhammad Imarah menemukan sembilan kesalahan yang dilakukan oleh al-Jabiri dalam memahami al-Quran. Pertama, kesalahan al-Jabiri ketika menganggap adanya pertentangan antara keimanan dalam Islam dengan argumentasi logis (burhân). Dalam hal ini al-Jabiri menganggap bahwa wahyu dalam Islam harus diterima dengan ketundukan dan kepercayaan wa bass, bukan menjadi kawasan akal untuk dianalisa dan dibuktikan. Selain menganggap keimanan tak memiliki ladasan logis, al-Jabiri juga menanggap ritual ibadah dalam semua agama –termasuk Islam&#8211; adalah doktrin yang tak juga bisa dicerna oleh akal. Ini adalah kesalahan kedua al-Jabiri menurut Muhammad Imarah.</p>
<p style="text-align: justify">Sedangkan kesalahan ketiga adalah anggapan al-Jabiri bahwa pengikut madzhad Hambali menolak justifikasi baik dan buruknya suatu perkara berdasarkan akal. Dengan mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah, yang merupakan pionir utama madhab Hambali, Muhammad Imarah menegaskan bahwa sebagian besar ulama Islam dari beragam madzhab, termasuk Hambali, mengakui adanya jastifikasi baik-buruknya suatu perkara berdasarkan pada akal. Kesalahan al-Jabiri ini, menurut Imarah, dikarenakan dia hanya mengambil pendapat dari mitra-mitra “modernis”nya yang memang terlibat perselisihan sengit dengan para pengikut madzhab Hambali.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kesalahan keempat, Imarah memaparkan anggapan al-Jabiri bahwa kenabian adalah  tahapan akhir dari proses pengembaraan spiritual, yang karena memiliki aturan main yang berbeda dengan nalar logika, maka tidak bisa dicerna pula oleh akal. Sedangkan kesalahan kelima al-Jabiri adalah pendapatnya yang menyamakan antara Taurat, Injil dan al-Quran. Menurut al-Jabiri, ketiga kitab suci tersebut pada dasarnya tidak ada perbedaan baik dari segi sumber maupun isinya. Yang membedakan antara ketiganya hanyalah karena al-Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Kesalahan keenam, al-Jabiri berpendapat bahwa kisah-kisah kenabian yang termuat dalam al-Quran pada dasarnya tidak berbeda dengan yang ada dalam Taurat dan Injil. Al-Quran tidak memunculkan sesuatu yang baru dalam hal ini, kecuali dalam cara pemaparannya saja. Kesalahan ketujuh, al-Jabiri –sepertimana yang diyakini oleh para rasionlis-materialis&#8211;  bahwa peristiwa Isra Mi’raj hanyalah sekadar kejadian di alam mimpi, bukan kejadian dalam dunia nyata yang merupakan salah satu mukjizat kenabian.</p>
<p style="text-align: justify">Kesalahan kedelapan, al-Jabiri menganggap “Islam” dan “muslimin” pada hakikatnya bukan dikhusukan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah. Nama Islam dan Muslimin, menurut al-Jabiri, baru muncul pada masa-masa akhir kenabian, setelah para pengikut Muhammad membentuk sebuah komunitas dengan satu pemimpin tertentu –yaitu Nabi Muhamamd&#8211; dan melepaskan diri dari komunitas kafir Quraisy. Dan kesalahan terakhir –dalam kategori al-akhta’&#8211; adalah pengingkaran al-Jabiri terhadap kebenaran kisah-kisah yang dimuat dalam al-Quran. Menurut al-Jabiri, tidak penting apakah nama-nama pelaku dan tempat kejadian dalam kisah-kisah al-Quran itu benar atau tidak. Yang terpenting dari pemaparan kisah al-Quran adalah pelajaran yang  bisa diambil dari cerita tersebut. Bahkan dengan gamblang al-Jabiri menganggap bahwa percakapan-percakapan yang terjadi antara para Nabi dengan kaumnya yang termuat dalam al-Quran tidaklah terjadi sungguhan, sebagaimana percakapan antara penghuni syurga dan penghuni neraka pada hari kiamat nanti, karena kiamat sendiri belum terjadi.</p>
<p style="text-align: justify">Meskipun masih menganggap sebagai ‘kesalahan wajar’ dari seorang ilmuan, namun Muhammad Imarah tetap membantah secara tegas kesalahan-kesalahan pemahaman al-Jabiri ini. Selain menggunakan al-Quran dan Hadis sebagai landasaran dasar, Imarah juga tak lupa menyertakan pendapat para ulama dan argument-argumen logis untuk menguatkan bantahannya.</p>
<p style="text-align: justify">Selesai membantah rekayasa pada kategori al-Akhtha’, Imarah kemudian beranjak pada tahapan rekayasa yang lebih berat, yaitu pada kategori al-Khathaya. Ada tiga ‘dosa’ yang ditemukan oleh Imarah dalam proyek penafsiran al-Jabiri ini. Kesalahan pertama adalah anggapan al-Jabiri bahwa Nabi tidaklah terjaga dari salah dan dosa (maksum). Al-Jabiri menganggap bahwa doktrin “ishmah” hanyalah intrik politik yang merasuki pemikiran Islam pada masa-masa setelah Nabi meninggal. Kesalahan ini, menurut Imarah, sangat fatal karena sudah mendobrak keyakinan fundamental bagi seluruh umat Islam. Bagi umat Islam, kemaksuman Nabi Muhammad adalah salah satu induk keimanan, karena berkaitan dengan orisinalitas dan kebenaran wahyu yang disampaikan oleh Sang Utusan. Karena itulah kemaksuman Nabi dari dosa dan salah dalam penyampaian wahyu telah dijelaskan secara tegas dalam banyak ayat al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify">Memang Nabi Muhammad adalah manusia biasa, namun al-Jabiri ternyata berlagak tidak tahu bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang diberi tugas menyampaikan wahyu. Dengan adanya tugas kenabian tersebut, maka Nabi Muhammad ibarat otak bagi tubuh manusia. Beliau berada pada tingkatan paling atas dari seluruh tingkatan manusia; tahapan terakhir dari alam syahadah dan permulaan menuju alam gaib. Di dunia, beliau seperti bukan penduduk dunia, namun seperti penduduk akhirat dengan baju penghuni dunia.</p>
<p style="text-align: justify">Selain dari dalil teologis, secara logika pun pendapat al-Jabiri ini sebenarnya bisa dibantah. Jika seorang raja yang ingin menitipkan sebuah surat yang sangat berharga, akan memilih orang yang jujur, dapat dipercaya dan tidak pembohong, lalu bagaimana dengan Tuhan? Apakah mungkin Tuhan memilih orang yang pelupa, pembohong atau sering salah untuk menyampaikan wahyu tekahir-Nya yang abadi itu? Oh, tentu tidak!</p>
<p style="text-align: justify">Tidak puas dengan mengingkari kemaksuman Nabi, al-Jabiri juga menganggap Nabi dan para Sahabatnya sebagai para perampok (quttha’ al-thuruq) kafilah dagang Quraish. Perjanjian Aqabah yang menjadi peletakan batu pertama peristiwa hijrah Nabi dan para Sahabatnya ke Madinah dianggap sebagai perjanjian untuk melakukan perang, dan hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah adalah upaya untuk melakukan konsolidasi guna mengatur strategi perang melawan Quraish. Bahkan al-Jabiri kemudian menganggap bahwa peperangan dalam Islam didasari atas keserakahan untuk memperoleh rampasan perang. Inilah yang menjadi ‘dosa’ kedua pemikir lulusan Prancis ini dalam proyek studi al-Qurannya.</p>
<p style="text-align: justify">Sementara itu, dosa terakhir yang dibantah oleh Muhammad Imarah dalam buku ini adalah pengingkaran al-Jabiri terhadap penjagaan Allah atas al-Quran dari kekurangan, tambahan, atau pengubahan. Mushaf Imam yang sekarang menjadi pegangan Kaum Muslimin di seluruh dunia, menurut al-Jabiri, bukankah al-Quran yang utuh seperti yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Kekurangan itu disebabkan oleh kesalahan (at-khata’), kelupaan (al-nisyan), penggantian (al-tabdil), penghapusan (al-hadzf) dan penasakhan (al-naskh) saat kodifikasi pada masa Utsman. Lebih sembrono lagi, al-Jabiri bahkan menganggap bahwa seluruh ulama Islam –tanpa menyebutkan siapa ulama-ulama itu&#8211; mengakui ketidaksempurnaan al-Quran ini!</p>
<p style="text-align: justify">Untuk membantah dosa terakhir al-Jabiri, Muhammad Imarah menghabiskan hampir sepertiga jumlah halaman buku yang diterbitkan oleh Dâr al-Salâm, Kairo, ini. Dengan mengutip dalil al-Quran, Hadis, fakta historis, hingga pendapat para ulama, Imarah menegaskan bahwa al-Quran yang sekarang ada di tangan Kaum Muslimin adalah al-Quran yang utuh seperti yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Dosa al-Jabiri yang menganggap bahwa kekurangan al-Quran diakui oleh seluruh ulama Islam pun dibantah dengan menghadirkan pendapat para ulama dari berbagai madzhad dan aliran dalam Islam. Anehnya, semua ulama dari berbagai aliran yang berbeda itu ternyata justru sepakat bahwa al-Quran tidak terdapat sedikit pun kekurangan. Al-Quran yang ada saat ini adalah seratus persen sama dengan al-Quran yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad pada empat belas abad lalu.</p>
<p style="text-align: justify">Bagi para pemerhati studi al-Quran, buku ini sangat perlu untuk dijadikan pegangan. Kapasitas Muhammad Imarah yang tidak diragukan lagi dalam ranah pemikiran Islam bisa menjadi jaminan mutu terhadap nilai keakuratan dan keilmiahan buku ini. Untuk menunjukkan nilai keilmiahan itu, Muhammad Imarah selalu menukil teks asli al-Jabiri yang ingin dia bantah. Selain sebagai tanggung jawab ilmiah, metode seperti ini juga bisa memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menginterpertasikan sendiri pendapat al-Jabiri secara langsung, sehingga penulis tidak terkesan hanya menuduh tanpa bukti. Selain itu, bantahan Imarah juga semakin mudah dipahami karena argument-argumen logis yang sering dia sertakan –disamping argument teologis dari al-Quran, Hadis dan pendapat ulama&#8211; dalam membantah dua belas rekayasa al-Jabiri ini. Wallahu a’la wa a’lam.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( Kru QommunityRadio &amp; Mahasiswa Al Azhar )</em></p>
<p style="text-align: justify">Buku                                          : Radd Iftirâ’ât al-Jâbiri ala al-Qurân al-Karîm.<br />
Penulis                                    : Prof. Dr. Muhammad Imarah.<br />
Penerbit                                : Darussalam, Kairo, Mesir.<br />
Tahun penerbitan   : Cetakan pertama, 2011.<br />
Jumlah halaman         : 221 halaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/09/28/dua-belas-rekayasa-al-jabiri-terhadap-al-quran-sebuah-resensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembaraan Menuju Syurga</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/09/20/pengembaraan-menuju-syurga/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/09/20/pengembaraan-menuju-syurga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 06:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi seorang pengembara atau musafir memang sangat berat. Karena harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahiranya, keluarganya, orang-orang yang dicintainya dan hal-hal lainya yang membuatnya sangat berat untuk berpisah darinya. Jika tidak ada motivasi yang kuat, serta cita-cita yang tinggi, maka sangat sulit bagi seseorang untuk pergi merantau ke tempat yang jauh, tempat yang mungkin sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Menjadi seorang pengembara atau musafir memang sangat berat. Karena harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahiranya, keluarganya, orang-orang yang dicintainya dan hal-hal lainya yang membuatnya sangat berat untuk berpisah darinya. Jika tidak ada motivasi yang kuat, serta cita-cita yang tinggi, maka sangat sulit bagi seseorang untuk pergi merantau ke tempat yang jauh, tempat yang mungkin sangat asing baginya.<span id="more-714"></span></p>
<p>Padahal bumi Allah sangatlah luas. Kehidupan kitapun tidaklah sesempit burung yang terpasung kebebasanya karena selalu berada dalam sangkar. Allah mengaruniai kita dua buah kaki untuk melangkah sejauh dan sebebasnya, untuk merasakan dan memperhatikan keagungan ciptaan Allah lewat ayat-ayat kauniyah-Nya.</p>
<p>“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya” (QS. Az-Zumar: 21)</p>
<p>Kehidupan ini menghendaki kita untuk selalu bergerak seperti air yang selalu mengalir memberikan kesuburan dan kesejukan setiap tanah yang dialirinya. Sebaliknya, kehidupan tidak menghendaki kita diam, statis, dan jumud. Karena air yang diam menggenang kan menjadi kotor dan hanya menimbulkan penyakit.</p>
<p>Maka, ketika kita tidak mau menjelajahi bumi Allah yang luas ini. Kita enggan untuk berhijrah serta berkelana untuk berdakwah, menuntut ilmu, mencari rizki dan bergerak agar hidup senantiasa lebih baik. Dan hanya diam di tempat sepanjang masa, niscaya kehidupan kita tidak akan berkembang. Kepribadian dan pola pikir kita akan selalu sama, meskipun usia semakin menua. Kita tidak bisa menjadi manusia yang produktif dan bermanfaat bagi kehidupan.</p>
<p>Sehingga, apa kelebihan kita? jika dibandingkan lebah yang tak bosan berpindah tempat dari satu bunga ke bunga yang lain hanya untuk membantu penyerbukan, agar bunga tetap hidup dan berkembang biak. Sementara kita sebagai manusia, makhluk Allah yang paling sempurna dibandingkan lebah dan makhluk serta ciptaan Allah lainya, tidak mampu memberikan manfaat apa-apa. Padahal bukanya sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainya? (HR.Imam Baihaqi)</p>
<p>Menjadi seorang musafir adalah hal yang semestinya dilakukan jika ingin menjadi sebaik-baik manusia dengan memberikan manfaat seluas-luasnya. Dengan merantau sebenarnya kita tidak akan merasakan kehilangan dengan apapun yang kita tinggalkan di kampung halaman. Justru akan mendapatkan banyak hal yang jauh lebih berharga sebagai pengganti dan balasan hasil jerih payah perantauan kita. Pepatah Arab mengatakan “Saafir tajid ‘iwadhon ‘amman tufaariquhu”. Mengembaralah kelak engkau akan menemukan pengganti dari apa yang telah engkau tinggalkan!</p>
<p>Pepatah tersebut pun terbukti. Dalam pengembaraan, seringkali kita menemukan banyak sahabat yang jauh lebih mencintai kita dibandingkan saudara sendiri. Sehingga kita merasa mereka adalah sebuah keluarga bagi kita layaknya keluarga kita di rumah. Meski  tidak ada hubungan darah yang menyatukan kita dengan mereka. Kita juga akan merasakan hal-hal yang tidak kalah indahnya dengan apa yang kita rasakan di kampung halaman. Tentunya, pengalaman, ilmu dan rizki kita akan lebih bertambah, tatkala dalam pengembaraan kita mempunyai tujuan serta target yang hendak dicapai untuk peningkatan dan pengembangan diri.</p>
<p>Terlebih, menjadi seorang musafir demi menuntut ilmu adalah sebuah kemuliyaan hidup. Bagaimana tidak? Allah sendiri berfirman akan meninggikan derajat mereka yang senantiasa belajar dan tak bosan menuntut ilmu.(QS.58:11)</p>
<p>Dalam tafsir at-Thobari, derajat penuntut ilmu lebih tinggi dibandingkan para ahli sholat, puasa dan sedekah jikalau dengan ilmu yang dimilikinya, ia semakin taat dan dekat dengan Allah. Para penuntut ilmu pun senantiasa di doakan para malaikat, serta mendapatkan tempat yang mulia diantara manusia, karena ilmu yang ia miliki dan kemudian diamalkanya.  Mari kita amati mengapa para ulama dan ilmuwan, lebih dimulyakan, dihargai dan dikenang kehidupanya dibandingkan para konglomerat yang bergelimpangan harta? Ya, karena ilmu telah mengangkat derajat mereka.</p>
<p>Dan untuk menjadi seorang ulama dan ilmuan, tidak bisa didapatkan hanya dengan berdiam diri, tanpa mau keluar mengembara untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Sehingga, balasan apakah yang lebih besar? jikalau merantau ke tempat yang jauh demi menuntut ilmu, kecuali Allah akan memudahkan jalan baginya menuju syurga.</p>
<p>Barang siapa yang berada pada suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga. (HR. Abu Daud)</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">oleh: Muhammad Nidauddin (alumni al-Azhar Kairo)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/09/20/pengembaraan-menuju-syurga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menempuh Proses</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2011/09/13/menempuh-proses/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2011/09/13/menempuh-proses/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 21:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Dia mengenalkan diri dengan nama Ahmad. Nama yang menurutku ambigu jika tidak diberi tambahan nama belakang. Nama Ahmad, Mahmud dan Muhammad, hampir menjadi nama “wajib” setiap lelaki di Mesir, sehingga warga asing seperti kami sering kerepotan untuk membedakan panggilan antara satu orang Mesir dengan lainnya. Saat ditanya, orang Mesir akan beralasan bahwa hal ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Dia mengenalkan diri dengan nama Ahmad. Nama yang menurutku ambigu jika tidak diberi tambahan nama belakang. Nama Ahmad, Mahmud dan Muhammad, hampir menjadi nama “wajib” setiap lelaki di Mesir, sehingga warga asing seperti kami sering kerepotan untuk membedakan panggilan antara satu orang Mesir dengan lainnya. Saat ditanya, orang Mesir akan beralasan bahwa hal ini adalah fenomena yang bagus dalam Islam. Selain sebagai salah satu bentuk ittiba sunah Rasul, juga sebagai ungkapan cinta terhadap manusia terbaik ini. Jika nama adalah sebuah doa, maka memberi nama dengan nama para nabi adalah doa paling agung menurut mereka.<span id="more-707"></span></p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Ahmad adalah salah satu penjual buku di kawasan Masjid al-Azhar, Darrasah. Kawasan ini merupakan pasar buku tradisional yang sangat menarik. Bisa dibilang, kawasan Masjid al-Azhar ini adalah komplek toko buku terbesar di Mesir, selain di kawasan Down Town dan Tahrir. Saat memiliki rizki lebih, saya tak pernah lupa mengunjungi tempat ini. Hunting buku sekaligus survei buku-buku terbitan terbaru.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Di Mesir sendiri, produktifits menulis penduduknya terbilang tinggi. Buku-buku baru silih berganti terbit dalam waktu yang berdekatan. Puluhan, bahkan ratusan penerbit buku biasanya memajang buku-buku baru setiap minggunya. Maka persaingan antar pedagang buku pun semakin ketat.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Melihat toko milik Ahmad, saya sempat prihatin. Toko yang dijaga Ahmad hanyalah sepetak kios yang tak lebih dari 4 m2. Jika dibandingkan dengan toko-toko buku di samping kanan-kirinya, toko buku milik Ahmad ini seperti tikus disandingkan dengan gajah. Selain kecil, buku-buku yang ditawarkan Ahmad tergolong buku-buku lama. Jarang sekali –untuk tidak mengatakan tidak ada&#8211; ada buku-buku baru di sini. “Harganya masih mahal, Kawan,” jawab Ahmad ketika saya tanya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Sebenarnya bukan hanya Ahmad yang toko-nya kecil. Selain Ahmad juga ada banyak penjual lain yang tokonya tak lebih dari 4 m2. Beberapa yang lain bahkan hanya mendirikan meja di samping-samping jalan, lalu menggelar dagangannya di situ. Kelebihan dari toko Ahmad Dkk. ini adalah harganya yang sangat miring jika dibanding dengan toko-toko lainnya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Dengan harga yang sedemikian miring, keuntungan yang diperoleh Ahmad pun miring. Dia tidak menceritakan berapa persen keuntungan dari setiap buku yang dia jual. Tapi dia mengatakan hanya mendapatkan keuntungan tak lebih dari 10-20 le setiap harinya.</p>
<p style="text-align: justify">“Kenapa tak berhenti berjualan aja?” aku memberanikan untuk bertanya.</p>
<p style="text-align: justify">“Ini adalah ikhtiar, Kawan. Bukankah rizki tak turun dari langit dengan sendirinya?”</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Saya sempat terperanjat mendengar ucapan itu. Saya ingat, itu adalah ungkapan Umar bin Khattab ratusan tahun yang lalu. Saat itu, Umar mengingatkan secara keras orang-orang yang ingin mendapatkan rizki namun tak mau berusaha dan hanya duduk-duduk sambil berdoa.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Dari Umar bin Khattab, pikiran saya kemudian terbang ke Indonesia. “Indonesia butuh orang seperti Ahmad,” ujar saya dalam hati. Orang yang mau menempuh proses untuk mendapatkan sebuah hasil.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Salah satu penyakit akut bangsa kita adalah budaya instan. Banyak maunya sedikit usaha; banyak bicara sedikit kerja. Kita ingin jadi orang sehebat mungkin dengan usaha sekecil mungkin. Ingin menjadi orang sekaya mungkin dengan pengorbanan sesedikit mungkin. Budaya inilah yang melahirkan korupsi menggila dan kriminalitas di mana-mana. Nazaruddin dan Gayus menjadi contoh paling ngejreng akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Kita sepertinya lupa sunnatullah, bahwa hasil selalu berbanding lurus dengan usaha dan etos kerja. Ada yang keluar dari aturan main ini? Benar, tapi sedikit. Kenapa kita mengejar yang sedikit dengan meninggalkan yang banyak? Rasulullah saja mengikuti aturan main ini.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Untuk merubah tatanan masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat Madani, Rasulullah harus berjuang tanpa henti selama 23 tahun. Padalah apa susahnya bagi Allah untuk menjadikan semua orang di dunia ini beriman dalam sekejap? Tapi Allah tidak menginginkan hal itu. Melalui Rasulullah, Allah sepertinya ingin memberikan pelajaran bagi seluruh umat manusia bahwa usaha adalah bagian dari hasil kerja. Tak akan berasa nikmat sebuah kesuksesan tanpa diiringi jerih payah dan pengorbanan.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah mampu mewariskan ribuan lembar karya tulis setelah berkorban untuk mewakafkan hidupnya demi riset dan membaca. Imam al-Bukhari harus menempuh jarak ribuan kilometer untuk mencari hadist demi hadist hingga mampu mengumpulkan hadis-hadis Nabi yang diakui paling otoritatif dari yang lainnya. Thomas Alfa Edison, Elbert Einsten, Che Guevara hingga Yusuf al-Qaradhawi adalah orang-orang pekerja keras yang menempuh setiap jengkal usaha untuk mencapai cita-cita yang mereka inginkan.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Lebih dekat dari itu semua, cerita Ahmad di atas adalah motivasi yang sangat menarik bagi saya, dan kita semua. Meskipun hanya memperoleh keuntungan 10 le, apakah Ahmad mengeluh kemudian mengambil jalan pintas? Tidak. Bagi Ahmad, yang penting adalah usaha dan <em>ikhtiyar.</em> Ahmad rela menunggu toko buku selama seharian hanya untuk mendapatkan 10 le daripada mencuri atau menipu, misalnya.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Kita sering terlalu cepat menyerah, kemudian menyerahkan semuanya pada takdir. Sudah praktis, pemalas, fatalis, pula. Padahal di setiap ujung usaha itulah baru ada takdir. Tak ada takdir tanpa usaha. “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d: 11).</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Pernahkah kita berfikir kenapa dalam umur 17 tahun Marina Hingis mampu menjuarai kejuaraan tenis dunia? Kenapa Thomas Alfa Edison mampu menemukan lampu yang saat ini mampu menerangi jagat raya? Kenapa Imam al-Ghazali manjadi filosof, ahli fikih sekaligus sufi secemerlang itu? Jawabannya adalah karena mereka semua menempuh setiap jengkal usaha menuju ke sana.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Di mana letak kita dari mereka? Jauh. Jauh sekali. Budaya instan masyarakat Indonesia belum bisa kita lepaskan, walaupun kita sudah berada ribuan kilometer dari Indonesia. Kita semua memiliki keinginan dan mimpi-mimpi, tapi sedikit saja dari kita yang sungguh-sungguh berusaha untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu. Mungkin kita pernah sungguh-sungguh berusaha, tapi mudah sekali menyerah. Sekali diterjang ombak, langsung tenggelam tak tahu rimbanya. Padahal usaha itulah yang Allah lihat dari diri kita. &#8220;Dan Katakanlah: &#8216;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.&#8221; (at-Taubah: 105).</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Oleh : Jauhar Ridzoni Marzuq ( Kru QommunityRadio &amp; Mahasiswa Al Azhar )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2011/09/13/menempuh-proses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

