<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Qommunity Radio Network</title>
	<atom:link href="http://qommunityradio.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qommunityradio.net</link>
	<description>Bersatu Mempererat Persaudaraan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Aug 2010 12:51:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Musim Panas di Jerman menjadi tantangan tersendiri dalam berpuasa</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/08/15/musim-panas-di-jerman-menjadi-tantangan-tersendiri-dalam-berpuasa/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/08/15/musim-panas-di-jerman-menjadi-tantangan-tersendiri-dalam-berpuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 12:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan 1431 H menjadi tantangan bagi kaum muslimin di Jerman karena bertepatan dengan musim panas. Dengan masuknya musim panas, berarti waktu siang menjadi lebih panjang dibandingkan dengan waktu malam. Hal ini berarti bahwa komunitas Muslim di Jerman menjalani waktu berpuasa sekitar 17 jam, lebih lama dibandingkan dengan waktu di Asia ataupun Timur Tengah yang hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ramadhan 1431 H menjadi tantangan bagi kaum muslimin di Jerman karena bertepatan dengan musim panas. Dengan masuknya musim panas, berarti waktu siang menjadi lebih panjang dibandingkan dengan waktu malam. Hal ini berarti bahwa komunitas Muslim di Jerman menjalani waktu berpuasa sekitar 17 jam, lebih lama dibandingkan dengan waktu di Asia ataupun Timur Tengah yang hanya sekitar 14 jam.<span id="more-530"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun demikian masyarakat Muslim di Jerman tetap semangat melakukan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan ini. &#8220;Memang saat ini kami sedang menjalankan puasa di musim panas, namun beberapa tahun yang lalu kami menjalankan ibadah puasa di musim dingin dengan waktu yang sangat singkat, sehingga saat ini tidak ada alasan bagi kami untuk tetap menjalankan ibadah puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari&#8221;. Demikian disampaikan salah seorang muslim yang bermukim di Jerman. (andi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/08/15/musim-panas-di-jerman-menjadi-tantangan-tersendiri-dalam-berpuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genggam Dunia dengan Membaca</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/06/05/genggam-dunia-dengan-membaca/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/06/05/genggam-dunia-dengan-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 13:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Ayat al-Qur&#8217;an yang pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah “iqra”, sebuah perintah untuk membaca. Para ulama memang berbeda pendapat dalam mengartikan lafal ini. Di antara mereka ada yang mengambil arti hakiki (khusus) yaitu “membaca sebuah teks tertulis” atau al-Qur&#8217;an itu sendiri. Hal ini tercermin dari jawaban Nabi Muhammad ketika Jibril datang menyampaikan ayat ini. &#8220;Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Ayat al-Qur&#8217;an yang pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah “iqra”, sebuah perintah untuk membaca. Para ulama memang berbeda pendapat dalam mengartikan lafal ini. Di antara mereka ada yang mengambil arti hakiki (khusus) yaitu “membaca sebuah teks tertulis” atau al-Qur&#8217;an itu sendiri. Hal ini tercermin dari jawaban Nabi Muhammad ketika Jibril datang menyampaikan ayat ini. &#8220;Aku tidak bisa membaca,&#8221; ujar sang Nabi, menegaskan bahwa ia adalah seorang buta huruf.<span id="more-527"></span></p>
<p>Sebagai lain mengartikan kata “iqra” ini dengan artian yang lebih luas, yaitu mmembaca alam semesta, karena pada hakikatnya alam yang terbentang luas di depan kita ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta. Terdapat banyak pelajaran yang bisa kita baca dari alam raya ini.</p>
<p>Terlepas dari kedua pendapat di atas, yang pasti ayat ini adalah salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan aktifitas membaca. Bagi Islam, membaca bukan hanya sekedar hobi dan kebutuhan, ia sudah menjadi tuntutan bahkan kewajiban. Membaca adalah sumber dari segala pengetahuan, yang kemudian menjadi embrio tumbuhnya peradaban yang gemilang.</p>
<p>Walaupun Nabi Muhammad adalah seorang buta huruf namun ia sangat menganjurkan umatnya untuk belajar dan membaca. Di tengah budaya buta huruf yang berkuasa pada saat itu, Rasul berusaha untuk mengikisnya dengan menyuruh para non-Muslim mengajarkan kepada umat Islam membaca. Ketika Islam mulai tumbuh di Madinah Nabi memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk membaca buku-buku bahasa Ibrani dan belajar Taurat dari orang-orang Yahudi. Bahkan Nabi juga bersabda, “Siapa yang meniti jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka jalan baginya menuju syurga.” Dan jalan ilmu pengetahuan itu tak lain adalah membaca.</p>
<p>Sejarah telah mencatat, peradaban-peradaban gemilang yang pernah muncul menguasai dunia adalah perdaban yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan itu tak lain adalah hasil dari membaca yang sangat keras. Peradaban Islam tembuh berkembang karena membaca khazanah peninggalan-peninggalan peradaban Yunani dan Romawi, lalu diadaptasikan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Begitu juga peradaban Barat saat ini adalah hasil dari membaca warisan-warisan keilmuan Islam yang kemudian mereka terapkan dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Amerika yang saat ini menguasai peradaban dunia tercatat 100% penduduknya aktif membaca Koran harian. Jepang, Jerman dan negara maju lainnya Masyarakatnya adalah “kutu buku”. Penduduk negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, Ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, dan aktifitas lainnya mereka tidak pernah lupa untuk menyempatkan membaca. Maka tak salah kalau perdaban mereka berjaya menguasai dunia.</p>
<p>Dalam Islam keadaan seperti ini pernah terjadi. Peradaban Islam yang pernah gemilang berbanding lurus dengan aktifitas membaca para umatnya. Ketika Eropa masih gelap gulita diterpa perpecahan yang peperangan saudara, Islam telah memiliki perpustakan terbesar di dunia. Baghdad, Cordoba, Mesir, adalah sebagian kecil buktinya. Karya-karya besar para ulama telah memenuhi rak-rak perpustakaan di sana. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’I, Al-Hawarizmy, Ibnu Sina, al-Faraby, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar al-Asqalani adalah sebagian kecil dari mereka yang memiliki ratusan karya. Karya-karya itu tentu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari kegigihan mentelaah dan kecintaan membaca.</p>
<p>Kecintaan pada ilmu dan membaca, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Perintah “iqra” seakan sudah melekat kuat dalam kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Lihatlah penuturan seorang Ibnu Abdul Hadi. Salah seorang murid Ibnu taimiyah ini pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak pernah letih untuk terus menelaah dan mencari.”</p>
<p>Bagi mereka, buku ibarat sebuah gudang harta karun. Ketika menemukannya mereka tidak sabar untuk membaca dan melahap semua isinya. Ibnu al-Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.” Selanjutnya dia mengatakan, “kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid buku, tetapi aku masih terus mencari.”</p>
<p>Bukan hanya itu, bahkan membaca telah menjadi penyemangat mereka untuk untuk terus hidup. Ia ibarat butiran oksigen yang mengisi paru-paru mereka untuk menyambung nafas mempertahankan eksistensi diri mereka.</p>
<p>Ibnu taimiyah pernah jatuh sakit parah. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak bisa bergerak dan beranjak kemana pun. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya membaca dan menelaah buku-buku.</p>
<p>Ketika sang dokter kuwalahan mengobati penyakitnya dan menganjurkannya untuk berhenti membaca buku, ia malah berkata, “Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka ia mampu menyembuhkannya dari penyakit? Dan Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu.”</p>
<p>Dan ternyata benar, tak lama setelah itu ia berangsur-angsur membaik kemudian sehat seperti sedia kala. Melihat keajaiban ini sang dokter hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”<br />
Lihatlah, Sobat, bagaimana mambaca buku bukan hanya sebatas hobi dan aktifitas mengisi waktu luang, lebih dari itu, ia telah menjadi obat dari sakit yang meraka derita. Falsafah “bacalah, agar engkau bisa hidup” seakan sudah mendarah daging dalam diri ulama-ulama pendahulu kita. Tak salah kalau kemudian merka bisa melahirkan ribuan karya. Jangankan untuk mengkajinya, untuk membacanya saja kadang-kadang kita tidak sempat.</p>
<p>Begitulah sedikit potret kegigihan para ulama kita dalam membaca. Siapakah kita dibanding mereka? Mungkin pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Kita sering terobsesi ingin menjadi seperti mereka: memiliki pengetahuan luas, dan menghasilakan banyak karya. Tetapi kita lupa, bahwa mereka telah menempuh proses yang berliku. Dan tak lain semua itu berawal dari membaca. Membaca adalah upaya untuk mencari pengetahuan, dan karya (tulisan) adalah cara untuk memberikan (menyampaikannya) kepada orang lain. Bagaimana kita mau memberi kalau kita tidak memiliki apa-apa? &#8220;Faaqidus syai&#8217; la yu&#8217;thi&#8221;. Maka tak pelak, kita harus membaca untuk menghasilkan sebuah karya.</p>
<p>Membaca bukanlah sedekar aktifitas memelototi huruf dan kata, namun ia juga usaha untuk membawa fikiran kita melompat menerjang batas teritorial dunia. Dengan membaca, jendela-jendela pengetahuan dunia terbuka luas bagi kita. Kita bisa mengetahui sejarah ribuan tahun silam yang ada di negeri entah-berntah hanya dengan membaca. Kita tidak perlu datang untuk mengunjungi suatu tempat atau mengikuti sebuah kejadian, cukup dengan membaca, sebenarnya kita telah berkeliling menjelajah dunia.</p>
<p>Seperti halnya makanan bagi tubuh, membaca adalah nutrisi buat otak. Membaca bisa membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir seseorang. Dengan membaca otak kita akan terus terasah dan mendorong kita untuk selalu mencari jawaban dari setiap masalah.</p>
<p>Maka tidak salah kalau perdaban gemilang itu lahir dari membaca. Dan terakhir dari catatan ini saya ingin mengatakan kepada anda, “Bacalah, dan biarkan dunia ada di genggaman anda.”
</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Jauhar Ridloni Marzuq ( Kru QommunityRadio Kairo )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/06/05/genggam-dunia-dengan-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Bin Rowahah Sang Panglima Berlidah Tajam</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/06/04/abdullah-bin-rowahah-sang-panglima-berlidah-tajam/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/06/04/abdullah-bin-rowahah-sang-panglima-berlidah-tajam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 09:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah mencatat prestasi-prestasi besar umat islam dalam menyebarkan panji dakwahnya. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi ketika islam mulai memompa denyut nadinya tersebut, menjadi sebuah kisah yang menginspirasi bagi perkembangan dakwah generasi selanjutnya.  Sebut saja peristiwa penaklukan-penaklukan umat islam atas wilayah-wilayah yang secara terang-terangan menghalangi dan memerangi dakwah islam, seperti penaklukan Mekah, penaklukan Persia, perang Badar atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Sejarah mencatat prestasi-prestasi besar umat islam dalam menyebarkan panji dakwahnya. Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi ketika islam mulai memompa denyut nadinya tersebut, menjadi sebuah kisah yang menginspirasi bagi perkembangan dakwah generasi selanjutnya.  Sebut saja peristiwa penaklukan-penaklukan umat islam atas wilayah-wilayah yang secara terang-terangan menghalangi dan memerangi dakwah islam, seperti penaklukan Mekah, penaklukan Persia, perang Badar atau pembebasan-pembebasan wilayah-wilayah yang mengalami penindasan oleh penguasa lalim seperti pembebasan mesir dari kerajaan romawi dan Persia kala itu, atau pembebasan Andalusia dari Rhoderic yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.<span id="more-523"></span>Beberapa peristiwa heroik tersebut walau sarat dengan pertumpahan darah dan jatuhnya korban yang tak terelakkan, namun disisi lain ada keteladanan-ketedanan yang menyematkan citra positif pada kaum muslim dan gerakannya. Citra positif tersebut semakin mengokohkan bahwa islam disebarkan di muka bumi ini sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.  Salah satu peristiwa heroik yang dicatat sejarah islam bahkan mengubah dunia adalah perang Mu&#8217;tah. Peperangan ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 Hijriah di sebuah daerah bernama Mu‘tah yang terletak di perbatasan Syam. Dalam perang ini, kaum muslimin yang berjumlah 3000 pasukan mampu memukul mundur pasukan romawi yang berjumlah sebanyak 200.000 orang. Juga, perang ini menyisakan keteladanan para pemimpin-pemimpinnya yang gugur dalam tugas. Mereka adalah Zaid bin Haritsa, Ja‘far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.</p>
<p style="text-align: justify">Saat perang berkecamuk, ketiga sahabat ini bahu-membahu memukul mundur lawan dan mempertahankan semangat pasukannya walau jumlahnya sangat tidak berimbang. Saat Zaid bin Haritsa gugur di ujung tombak, bendera perang diambil alih langsung oleh Ja&#8217;far bin Abu Thalib sampai menemui Rab-nya dalam keadaan syahid, kemudian Abdullah bin Rowahah mengambil alih panji peperangan hingga mengalami nasib yang sama dengan kedua sahabat sebelumnya. Akhirnya Kholid bin Walid mengambil alih kepemimpinan hingga menghasilkan kemenangan di pihak umat Islam. Tentunya kemenangan yang diraih pasukan islam lewat tangan panglima Kholid bin Walid bukan berarti bahwa Kholid lebih cakap dalam memimpin pasukan, melainkan bahwa kemenangan yang diraih Kholid dan pasukannya merupakan akumulasi dari usaha-usaha perlawanan yang dilakukan oleh ketiga sahabat yang telah menjemput syahid. Tak terkecuali usaha sahabat Abdullah bin Rowahah yang piawai dalam merangkai kata-kata sehingga mampu memantik keberanian prajurit muslim, menggelorakan semangat Jihad disaat pasukan muslim ciut nyalinya menghadapi besarnya jumlah lawan yang tak sebanding dengan jumlah mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam beberapa literatur sejarah islam, disebutkan ketika pasukan muslim mengetahui jumlah lawan sekian lipat dibanding jumlah mereka, timbul sedikit kecemasan menyelimuti para panglima perang, akhirnya sahabat Zaid bin Haritsah, Ja&#8217;far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rowahah melakukan perundingan guna membahas strategi perang. Akhirnya tercetuslah gagasan Zaid bin Haritsah untuk menulis surat ke Madinah meminta tambahan bantuan pasukan untuk mengimbangi jumlah pasukan di pihak lawan. Akan tetapi Abdullah bin Rowahah dengan lantang menolak usulan tersebut sembari meyakinkan bahwa perang kali ini akan dimenangkan oleh kaum muslim, jika tentara muslim berperang semata-mata karena Allah dan guna menjemput syahid. Letupan kata-kata Abdullah bin Rawahah membuat semangat pasukan muslimin kembali terpancar, menatap pasukan musuh dengan penuh keberanian</p>
<p style="text-align: justify">Disinilah peran Abdullah bin Rowahah menonjol, khususnya dalam berorasi. Ia berhasil membangkitkan kembali semangat tentara muslim untuk menggelorakan kalimat Allah dalam medan jihad. Dalam orasinya ia meyakinkan bahwa perang kali ini bukan didasarkan pada jumlah bilangan dan kekuatan, tapi semata-mata untuk membela agama Allah dan memenuhi panggilan syahid yang menjadi impian semua kaum muslimin. Kata-kata yang singkat, jelas dan berdaya hipnotis merupakan cerminan dari kemampuan beliau sebagai seorang penyair ulung.</p>
<p style="text-align: justify">Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi  bagi kejayaan Islam. Dan Rasululloh <em>Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam </em>menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair. Maka tidak heran, jika orasi-orasinya langsung menusuk ke hati para pendengarnya, begitu juga ketika beliau berorasi di hadapan pasukan muslim pada perang Mu&#8217;tah. Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, Abdullah ibnu Rawahah selalu tampil membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan.</p>
<p style="text-align: justify">Saidini Umar bin Khatab pernah berpesan untuk mengajarkan sastra kepada generasi-generasi muda umat “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani”. Dengan alasan ini juga mengapa para pemimpin perang biasa melantunkan syair di hadapan prajuritnya sebelum berhadapan dengan musuhnya. Tak terkecuali Abdullah bin rowahah yang konon sebelum memeluk islam melibatkan diri bersama para penyair-penyair kafir Quraisy untuk menghalangi dakwah islam dengan syair-syair yang merendahkan martabat nabi dan agama tauhid. Akan tetapi ketika dia masuk islam, kepiawaiannya mengolah kata-kata indah tersebut menjadi senjata yang tak kalah tajamnya dengan pedang seorang prajurit.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam Mu&#8217;tah, Abdullah bin Rawahah mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang berasal dari keyakinan yang kuat. Dia memang tidak ikut menikmati udara kemenangan bersama pasukan yang lain. Namun inisiatifnya untuk mengangkat spirit pasukan ketika kebimbangan dan rasa takut meliputi mereka, telah menghalangi langkah mundur pasukan sebelum memasuki medan perang. Dan mengajarkan kepada kita untuk mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki <em>Li&#8217;ilai Kalimatillah</em>, termasuk kemampuan yang terkadang banyak disepelakan seperti menulis dan berorasi. Semoga kebaikan-kebaikan yang dimilikinya senantiasa menjadi inspirasi pelecut semangat dalam berdakwah bagi generasi-generasi islam selanjutnya termasuk kita. Amin.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Khoirul Fata</em></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/06/04/abdullah-bin-rowahah-sang-panglima-berlidah-tajam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relawan Mesir Ungkap Kejadian Sesungguhnya Saat Serangan Israel</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/06/02/relawan-mesir-ungkap-kejadian-sesungguhnya-saat-serangan-israel/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/06/02/relawan-mesir-ungkap-kejadian-sesungguhnya-saat-serangan-israel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 09:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang anggota parlemen Mesir dari Ikhwanul Muslimin yang juga menjadi relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara, Dr Hazim Faruk Mansur mengungkapkan kejadian yang sesungguhnya terhadap &#8220;armada kebebasan&#8221; secara detail dan rinci kepada Al-Arabiya.net. Faruk mengatakan, ketika pulang ke Mesir,ia hanya mengenakan kaos dalam yang dilumuri dengan darah korban warga negara Turki yang meninggal akibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salah seorang anggota parlemen Mesir dari Ikhwanul Muslimin yang juga menjadi relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara, Dr Hazim Faruk Mansur mengungkapkan kejadian yang sesungguhnya terhadap &#8220;armada kebebasan&#8221; secara detail dan rinci kepada<em> Al-Arabiya.net.</em> Faruk mengatakan, ketika pulang ke Mesir,ia hanya mengenakan kaos dalam yang dilumuri dengan darah korban warga negara Turki yang meninggal akibat serangan Israel. Bahkan lantai kapal itu berubah warna menjadi merah akibat darah para korban, tambahnya lagi.</p>
<p>Faruk dan rekannya Muhammad Al-Baltaji yang sempat ditahan di pelabuhan Asdoud di Israel, mengungkapkan bahwa semua yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Israel Lieberman adalah kebohongan belaka. Ia mengatakan secara tegas bahwa kapal Armada Kebebasan tidak ada membawa senjata sama sekali, seperti yang dituduh oleh Israel.<span id="more-521"></span></p>
<p>Faruk menceritakan, sekitar jam empat dini hari, mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Namun di tengah-tengah shalat, mereka dikejutkan dengan beberapa helikopter yang terbang di atas kapal mereka, serta 4 kapal yang dilengkapi dengan meriam dan 16 kapal lainnya yang membawa sekitar delapan orang di setiap kapal.</p>
<p>Kemudian helikopter itu langsung menurunkan serdadunya dengan senjata yang lengkap, dan menembakkannya kepada mereka. Seketika para relawan langsung berlarian. Namun sebagian dari mereka ada yang tertangkap oleh tentara Israel, dan tidak segan-segan tentara Israel itu  membunuh mereka di dapan relawan lainnya. Ketika itu sebanyak 14 relawan dari Turki langsung syahid di tempat, dan beberapa beberapa orang lainnya luka-luka.</p>
<p>Setelah itu tentara Israel menyerang tempat yang digunakan sebagai perlindungan para relawan perempuan. Tentara itu menodongkan senjata ke kepala mereka. Tentara Israel memperlakukan mereka dengan kejam, tidak pandang bulu. Semua orang akhirnya diborgol.</p>
<p>Faruk menjelaskan, &#8220;Tentara Israel menurunkan kami satu persatu dari induk kapal. Mereka menurunkan Syeikh Raid Shalah, Syeikh Muhammad Zaidan, Syeikh Hamad, kemudian saya dan Dr Baltaji. Dan kami semua diborgol.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: hidayatullah.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/06/02/relawan-mesir-ungkap-kejadian-sesungguhnya-saat-serangan-israel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia di Jerman</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/05/22/ibu-hasri-ainun-habibie-meninggal-dunia-di-jerman/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/05/22/ibu-hasri-ainun-habibie-meninggal-dunia-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 17:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Mantan Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie meninggal dunia pada hari ini (Sabtu, 22/5/2010) sekitar pukul 17.30 waktu Jerman atau pukul 22.30 WIB setelah dirawat kurang lebih 2 bulan di rumah sakit di München. Jenazah Ibu Ainun Habibie rencananya akan dibawa pulang dan di makamkan di Indonesia.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mantan Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie meninggal dunia pada hari ini (Sabtu, 22/5/2010) sekitar pukul 17.30 waktu Jerman atau pukul 22.30 WIB setelah dirawat kurang lebih 2 bulan di rumah sakit di München. Jenazah Ibu Ainun Habibie rencananya akan dibawa pulang dan di makamkan di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/05/22/ibu-hasri-ainun-habibie-meninggal-dunia-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Egoisme ; Virus Penghancur Umat</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/05/07/egoisme-virus-penghancur-umat/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/05/07/egoisme-virus-penghancur-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 09:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Pada prinsipnya hubungan dengan sesamanya harus berpijak pada ikatan kasih sayang, yang diawali dengan sikap lapang dada dan terus meningkat hingga ke tingkatan itsar ( memprioritaskan orang lain ) sesuai dengan kadar ketaatan, kecintaan dan komitmennya terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jadi kewajiban paling rendah bagi kita terhadap saudara kita adalah bersikap lapang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Pada prinsipnya hubungan dengan sesamanya harus berpijak pada ikatan kasih sayang, yang diawali dengan sikap lapang dada dan terus meningkat hingga ke tingkatan itsar ( memprioritaskan orang lain ) sesuai dengan kadar ketaatan, kecintaan dan komitmennya terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Jadi kewajiban paling rendah bagi kita terhadap saudara kita adalah bersikap lapang dada, sehingga bila kita tidak mewujudkannya dalam hati berarti kita telah berdosa. Adapun itsar merupakan sesuatu yang disunnahkan untuk kita terapkan terhadap saudara kita.<span id="more-513"></span></p>
<p style="text-align: justify">Itsar atau memprioritaskan kebutuhan orang lain dari kita di saat kita butuh yang dilandasi keimanan adalah sebuah amalan tingkat tinggi, bagaimana tidak, dikala butuh dan sangat, kita masih bias memberikannya kepada orang lain sebuah refleksi jiwa yang menggugah hati sanubari setiap makhluk. Berbicara tentang itsar tidak hanya terbatas pada sebuah wacana yang tidak bias diaplikasikan dalam dunia nyata karena itu pernah ada dan mungkin ada setiap zaman yang dilalui generasi manusia, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Bagaimana para sahabat nabi mengaplikasikan itsar dalam kehidupan sehari-hari walau kondisi mereka saat itu masih serba kekurangan tapi dengan keimanan yang terhujam dalam dada mereka, mereka mampu mengamalkannya.</p>
<p style="text-align: justify">Al Qur&#8217;an telah mengemukakan kepada kita gambaran yang terang tentang masyarakat islam di Madinah yang nampak di dalamnya makna itsar dan pengorbanan, tidak pelit dan tidak bakhil. Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.&#8221; (Al Hasyr: 9).</p>
<p style="text-align: justify">Di dalam Sunnah (hadits) kita dapatkan gambaran lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Sa&#8217;ad bin Rabbi&#8217; telah menawarkan kepada Abdur Rahman bin Auf setelah keduanya dipersaudarakan oleh Nabi SAW untuk bersedia diberi separuh dari hartanya, salah satu dari rumahnya dan salah satu dari isterinya untuk dicerai, lalu disuruh menikahinya. Maka Abdurahman bin Auf berkata kepada Sa&#8217;ad bin Rabi&#8217; &#8220;Semoga Allah memberkahi keluargamu, semoga Allah memberkahi rumahmu, dan semoga Allah memberkahi hartamu, sesungguhnya aku adalah seorang pedagang, untuk itu tunjukilah aku di mana pasar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">Rasulullah mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Begitu pula di hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam”. Keutamaan orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga).</p>
<p style="text-align: justify">Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit kronis berupa KKN. Kehidupan yang individualistis (nafsi-nafsi) egoistis (mementingkan diri sendiri) dan apatis (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.</p>
<p style="text-align: justify">Contohnya kehidupan di masyarakat metropolis atau kosmopolis ada seorang tunawisma yang meninggal di dekat tempat sampah lalu di bawa ke rumah sakit akhirnya dikuburkan tanpa kehadiran sanak saudaranya. Atau orang-orang tua yang ditaruh di panti-panti jompo. Jarang dijenguk dan menjalani proses sakaratul maut sendirian tanpa didampingi atau ditalkinkan anak-cucu. Benar-benar mengenaskan. Sulit kita membayangkan keridhaan dan keberkahan Allah Taala akan tercurah kepada masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Sesungguhnya itsar bukanlah sesuatu yang utopia dan tidak mungkin kita hiaskan pada diri kita sebagai akhlak dan sifat kita, namun terkadang nafsu akan dunia sangat dominan bercokol di hati dan fikiran kita. Pertimbangan dan perhitungan untung rugi yang bersifat materi dan keduniaan sering kali membuat kita merasa berat jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan yang pada saat yang sama kita juga membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify">Hitunglah betapa seringnya kita memberikan isyarat dengan tangan kita kepada orang yang meminta-minta, sebagai tanda kalau kita tak hendak memberi, betapa seringnya kita menerima tamu di rumah kita sebagai beban yang merepotkan, padahal Rasulullah sudah mengingatkan kita barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Atau betapa seringnya tetangga sebelah rumah kita hanya mencium harum dan sedapnya aroma makanan yang kita masak, tanpa pernah terfikir di benak kita untuk berbagi dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Kita tahu bahwa seberat dzarrah pun kebaikan, pasti Allah akan memberikan ganjaran dan pahalanya di akhirat nanti, namun perasaan kurang yakin dan egoisme yang ada di dada kita senantiasa menghalangi kita untuk berbuat baik, sehingga kita lebih mementingkan kebahagiaan di dunia dan mengabaikan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Angan dan khayal kita tentang dunia senantiasa membumbung tinggi, sehingga lalai mempersiapkan kehidupan di akhirat dengan amal-amal shalih.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Oleh : Khoirul Fata</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/05/07/egoisme-virus-penghancur-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penderitaan Mereka adalah Inspirasi Hidayah</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/04/30/penderitaan-mereka-adalah-inspirasi-hidayah/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/04/30/penderitaan-mereka-adalah-inspirasi-hidayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 07:39:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas  meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York . Isinya kira-kira berbunyi ‘*I have been trying to reach you but never had a good luck!  Would you please call me back*? Karen’.
Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas  meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York . Isinya kira-kira berbunyi ‘*I have been trying to reach you but never had a good luck!  Would you please call me back*? Karen’.</p>
<p>Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik Karen higga dua hari lalu. ‘*Oh….thank you so much for getting back to  me*!’, jawabnya ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center of New York.  ‘*I am really sorry for delaying to call you back*’, kata saya, sambil menanyakan siapa dan apa latar belakang sang penelpon.<span id="more-509"></span></p>
<p>‘*Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at  the NYU ( New York University* )’, katanya.</p>
<p>‘*And so what I can do for you*?’ tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika  saya ada beberapa menit untuk berbicara lewat telpon. ‘*Yes, certainly I  have, just for you, professor*!’ candaku. ‘*Oh.. that is so kind of you*!’, jawabnya.</p>
<p>Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang keluarganya, profesinya, dan bahkan status sosialnya.</p>
<p>‘*I am a professor teaching sociology at the New York University*’,  demikian dia memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar di universitas tapi juga melakukan berbagai penelitian di  berbagai tempat, termasuk luar negeri. Karen sudah pernah mengunjungi banyak  negara untuk tujuan penelitiannya, termasuk dua negara yang justeru disebutnya sebagai sumber inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan .</p>
<p>‘*I spent more than 3 years in those countries, and mostly in  villages*’, katanya. ‘*During those three years, I have a lot memories about the  people. They are simply amazing*’, lanjutnya.</p>
<p>Tidak terasa Karen berbicara di telpon hampir 20 menit. Sementara saya  hanya mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun. Selain karena  cara Karen berbicara sangat menarik, informative dan disampaikan dalam bahasa yang jelas, saya menjadi lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia  adalah seorang professor, jadi dalam berbicara dia sangat sistimatis dan  eloquent.</p>
<p>‘*Karen, that is a very interesting story. I am sure what you did  experience in Pakistan I did as well. I lived in Pakistan 7 years, and had an opportunity to visit many of those areas you did mention*’, kataku.</p>
<p>‘*But what did you want to tell me out this story*?’, tanyaku lagi.</p>
<p>Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan  suara lembut dan agak lamban. ‘*Sir, I wanted to know further Islam, the  religion of those people. They are sweet people, and I think I have inspired by  them in many ways*’, katanya.</p>
<p>Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak  berbicara lewat telpon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic Center keesokan harinya (Sabtu lalu). Diapun menyetujui dan disepakatilah pukul 1:30  siang, persis jam ketika saya mengajar di kelas khusus non Muslim, Islamic  Forum for non Muslims.</p>
<p>Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang  saya tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang wanita menunggu saya. ‘*She is the mosque*’ (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut ke kantor  untuk menemui saya.</p>
<p>Tak lama kemudian datangnya seorang wanita dengan pakaian ala Asia  Selatan (India Pakistan). Sepasang shalwar dan Gamiz, lengkap dengan penutup  kepala ala kerudung Benazir Bhutto. ‘*Hi, sorry for coming earlier! I can wait  at the mosque, if you are still busy with other things*’, kata wanita baya  umur 40-an tahun itu. Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.</p>
<p>‘*Not at all, professor! I am free for you’*, jawabku sambil tersenyum.  ‘* Have* *your seat, but let me go around the school for five minutes*’, mintaku untuk sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.</p>
<p>Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya kembali  ke kantor. ‘*I am sorry Professor*!’, sapaku. ‘*Please do call me by name, Karen!*’, pintanya sambil tersenyum. ‘*You know, I like to address  people respectfully, and I really did not know how to address you*’, kataku.  ‘*In some countries, people love to be known with their professional title.  But I know Americans are not*’, lanjutku sambil ketawa kecil.</p>
<p>Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari  isu hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun Amerika, hingga kepada asal usul Karen itu sendiri. ‘*I am a Jew by birth. My  Parents are Jews, but you know, especially my father, he doesn’t believe in the religion any more*’, katanya. Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan sebagai sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.</p>
<p>Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak  percaya tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi, seperti Hanukkah, Sabbath, dll. ‘*These celebrations, as most Jews do, are no  more than heritage traditions*’, jelasnya. ‘*Judaism is think not a religion,  in the sense that it is more about culture and family*’, sambungnya lagi.</p>
<p>Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya.  Sekitar 60 persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari kalangan  sekte ‘Reform’ (Pembaharu). Mereka ini ternyata telah melakukan reformasi  mendasar dalam agama mereka, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. Sekte Reform misalnya sama sekali tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat dalam sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate  tahun lalu tentang konsep kehidupan. Pembicaranya adalah saya dan seorang  Pastor dan Rabbi dari Central Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai  kepada isu hari Akhirat, Rabbi tersebut mengaku tidak percaya.</p>
<p>Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan  Rusia berdiri dan bertanya ‘*And so, if you don’t believe in the life after  death, why you have to go to your synagogue, worship, wearing yarmukka, giving charity, etc.? Why do you think it is necessary to be honest, be helpful  to others? And why we have to avoid things we must avoid*?’, tanyanya  panjang lebar.</p>
<p>Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat ‘*we do all those  because that what we have to be and do*’.</p>
<p>Mendengar jawaban sang Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak yang tertawa.</p>
<p>Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep kebahagiaan. Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan banyak penelitian dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya.  Pernah ke Amerika Latin, Afrika, beberapa negara Eropa, dan juga Asia ,  termasuk Asia Selatan. ‘*But one thing I have to tell, those Pakistanis and  Afghanis are simply amazing people*’, katanya. ‘*What really amazed about them*?’ tanyaku.</p>
<p>‘*Many, their religiosity and commitment to the religion, among others.  But I think the most amazing about them is their strength and enduring in  nature in their daily life*’, katanya panjang lebar. ‘*I am amazed how these  people are so strong and looking happy despite the very challenging life that  they are in*’, jelasnya lagi.</p>
<p>Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan airmata di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang professor yang senior, walau masih belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa,  menjadikan saya lebih banyak mendengar. Di tengah-tengah membicarakan ‘kesulitan  hidup’ orang-orang Afghanistan dan Pakistan , khususnya di daerah pegunungan-pegunung an, dia meneteskan airmata tapi sambil melemparkan senyum. ‘I am sorry, I am very emotional with this story?’, katanya.</p>
<p>Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan  menurut ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan dunia sementara, dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu  sendiri. ‘*No matter how do you live your life here, it is temporary and unfulfilling. There must be some where, sometime where we will live eternally and all dreams and wishes will be fulfilled’*, jelasku. ‘*This belief gives us  an immense strength and determination to live our lives at fullest, no  matter how circumstances may surround that life itself*’.</p>
<p>Tanpa terasa adzan Dhuhr dikumandangkan. Saya pun segera berhenti  berbicara. Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan maka kita  seharusnya mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf  berhenti berbicara.</p>
<p>Setelah adzan saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen.  ‘*And so, what really makes you calling me the other day*?’</p>
<p>‘*I want to tell you that my mind constantly remember those people. My memory reminds me about how they happy are, while we Americans with all  this fancy life, lacking of happiness*.. !’, katanya seolah marah.</p>
<p>‘*And so what makes you contacting me? I mean why do you have to come  and discuss with me*?’ pancingku lagi.</p>
<p>Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata  ‘*I’ve thought this for long time. But I really don’t know what to do and how  to proceed it. I wanted to become a Muslim*!’, katanya mantap.</p>
<p>Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi Muslim itu sebenarnya sangat mudah. Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi nampaknya anda  sudah melalui prose situ, dan kini sudah menuju kepada jenjang akhir. ‘*My question to you is are you really convinced that this is the religion  that you believe to be the Truth*?’, kataku lagi.</p>
<p>‘Yes, certainly no doubt!’, jawabnya tegas.</p>
<p>Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bias wudhu  dan shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.</p>
<p>Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan ‘*Ash-hadu an laa  ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah*’, dengan penuh  khusyu’ dan diikuti pekikan takbir ratusan jama’ah yang hadir.</p>
<p>Hanya doa yang menyertai semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan  dalam iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai professor  ilmi-ilmu social di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!</p>
<p>New York, 26 April 2010</p>
<p>M. Syamsi Ali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/04/30/penderitaan-mereka-adalah-inspirasi-hidayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aygül Özkan, Muslimah Pertama yang Jadi Menteri di Jerman</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/04/28/aygul-ozkan-muslimah-pertama-yang-jadi-menteri-di-jerman/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/04/28/aygul-ozkan-muslimah-pertama-yang-jadi-menteri-di-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 21:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini adalah pekan yang menggembirakan bagi Aygul Ozkan, aktivis sosial berusia 39 tahun. Istri seorang dokter ini diangkat negara bagian Lower Saxony sebagai menteri sosial dalam perombakan kabinet yang dilakukan gubernur Christian Wulff. Ia menjadi Muslim dan keturunan Turki pertama yang menjadi pejabat pemerintahan di wilayah itu.
Bagi Ozkan, panggung politik bukan hal baru. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pekan ini adalah pekan yang menggembirakan bagi Aygul Ozkan, aktivis sosial berusia 39 tahun. Istri seorang dokter ini diangkat negara bagian Lower Saxony sebagai menteri sosial dalam perombakan kabinet yang dilakukan gubernur Christian Wulff. Ia menjadi Muslim dan keturunan Turki pertama yang menjadi pejabat pemerintahan di wilayah itu.</p>
<p>Bagi Ozkan, panggung politik bukan hal baru. Ia sebelumnya aktif di Partai Uni Demokratik Kristen (CDU), partai asal Kanselir Jerman Angela Merkel. Namun dengan jabatan menteri negara bagian, ia merasa mendapat amanah lebih.<span id="more-505"></span></p>
<p>&#8220;Saya menyadari bahwa saya menjadi panutan,&#8221; ujar Ozkan, yang lahir di Hamburg pada tahun 1971.</p>
<p>Ozkan adalah imigran asal Turki. Orang tuanya pindah ke Jerman dari Turki pada 1960-an seperti ribuan orang Turki lain yang diundang oleh pemerintah Jerman sebagai &#8220;pekerja tamu&#8221; untuk membantu menebus kekurangan tenaga kerja setelah Perang Dunia II.</p>
<p>Karir politik Ozkan disebut-sebut media setempat bak meteor yang melesat di langit. Wanita pengacara ini baru enam tahun bergabung dalam CDU. Namun sejumlah prestasi telah ditoreh:  menjadi anggota parlemen kota Hamburg dua tahun lalu dan bergabung dengan dewan eksekutif partai setelah itu. Sebelum penunjukan menteri, dia adalah juru bicara kebijakan ekonomi untuk kelompok parlemen daerah di Hamburg.</p>
<p>Wulff menyebut pengangkatannya sebagai &#8220;sinyal yang baik bagi anak-anak dan kaum muda dengan latar belakang imigran.&#8221; Namun Ozkan tak ingin dianggap hanya diangkat sebagai menteri karena menjadi &#8220;duta imigran&#8221;, tapi karena ia layak untuk jabatan itu.</p>
<p>Kepada Majalah Wanita Jerman,  Brigitte, ia menyatakan karakternya sudah bukan Turki lagi. &#8220;Saya adalah bagian dari Jerman,&#8221; katanya. &#8220;Turki&#8221; yang membekas dalam dirinya hanyalah sikapnya yang terbuka dan sangat spontan. &#8220;Selebihnya saya sangat &#8216;Jerman&#8217;: lebih menekankan pada perencanaan ke depan dan rasional.&#8221;</p>
<p>Ozkan sebelumnya bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan jasa pos. Ia aktif mengkritik xenophobia di Jerman. &#8220;Kalau aku pergi belanja di sebuah toko makanan di Blankenese (sebuah distrik kaya di Hamburg, red), aku masih diperlakukan berbeda dari orang yang tampak jelas Jerman,&#8221; katanya pada koran lokal Hamburger Abendblatt.</p>
<p>Sebagai menteri sosial negara bagian, ia akan fokus meningkatkan standar pendidikan bagi anak-anak imigran muda dengan membujuk orang tua untuk menyekolahkan anak mereka ke sekolah-sekolah umum. Sesuai dengan apa yang disuarakan selama ini, ia juga akan meneruskan langkah-langkah intergrasi kaum imigran dalam masyarakat Jerman.
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : republika</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/04/28/aygul-ozkan-muslimah-pertama-yang-jadi-menteri-di-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaligrafer Putri Indonesia Menyabet Juara 2 kategori Magribi di Lomba Kaligrafi Internasional, Turki.</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/04/22/kaligrafer-putri-indonesia-menyabet-juara-2-kategori-magribi-di-lomba-kaligrafi-internasional-turki/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/04/22/kaligrafer-putri-indonesia-menyabet-juara-2-kategori-magribi-di-lomba-kaligrafi-internasional-turki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 22:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kru-qr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Hari Kamis (15/4) yang lalu merupakan hari bersejarah bagi dunia kaligrafi Indonesia. Seorang kaligrafer wanita Indonesia, Nur Khamidiyah; berhasil menorehkan prestasi dengan menduduki juara ke- 2 kategori khot Magribi pada Lomba Kaligrafi Internasional yang diadakan olehIRCICA ( Islamic History Art and Culture Research Center) di Turki.
Lomba Kaligrafi Internasional ke-8 yang diadakan oleh IRCICA  tahun ini menganugerahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Hari Kamis (15/4) yang lalu merupakan hari bersejarah bagi dunia kaligrafi Indonesia. Seorang kaligrafer wanita Indonesia, <a href="http://diyya.wordpress.com/" target="_blank">Nur Khamidiyah</a>; berhasil menorehkan prestasi dengan menduduki juara ke- 2 kategori khot Magribi pada Lomba Kaligrafi Internasional yang diadakan oleh<a href="http://ircica.org/" target="_blank">IRCICA </a>( Islamic History Art and Culture Research Center) di Turki.<span id="more-492"></span></p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Lomba Kaligrafi Internasional ke-8 yang diadakan oleh IRCICA  tahun ini menganugerahkan 28  juara utama, 32 juara  harapan, serta 8 penghargaan insentif, dibagikan kepada 64 partisipan dari 15 negara. Lomba Kaligrafi atas nama Badawi al-Dirani tahun ini memperlombakan 10 cabang kaligrafi yang dikenal di dunia.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Berbicara dalam jumpa pers di Istana Yildiz, Direktur Umum IRCICA dan Panitia Lomba, Dr Halit Eren, hari ini telah menjadi saksi, bahwa seni kaligrafi Islam telah lahir kembali, dengan lahirnya pemenang dengan karya-karya baru mereka.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><img style="float: right;margin-top: 0px;margin-right: 0pt;margin-bottom: 15px;margin-left: 15px" src="http://emnoer.com/wp-content/uploads/2010/04/ircica.gif" alt="" width="400" height="250" />“Lomba Kaligrafi IRCICA yang diadakan setiap tiga tahun, yang tahun ini merupakan lomba ke- 8 telah menunjukkan nilai membanggakan sebagai berkontribusi nyata dalam menjaga turas Islam” lanjut Dr Halit.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px">IRCICA yang tahun ini merayakan ulang tahunnya ke-30 merupakan sebuah lembaga yang menjadi titik pusat rujukan dalam mengembangkan seni dan budaya. Selanjutnya Dr Halet mengatakan bahwa kompetisi ini bukan hanya milik negara muslim, tetapi merupakan ajang bagi seluruh pemerhati seni kaligrafi di dunia.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Kompetisi ini diadakan pertama kali pada tahun 1980-an, yang merupakan gagasan OKI (Organisasi Konferensi Islam), dimana Dr Ekmeleddin Ihsanoglu ketika itu menjadi Dirktur IRCICA serta pemrakarsa lomba.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Lomba ini melibatkan anggota dewan juri yang dipilih dari beberapa master kaligrafi dari berbagai negara, memperlombakan 10 cabang kaligrafi diikuti oleh 683 partisipan dari 31 negara dengan 969 karya.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Lomba kali ini disponsori oleh salah salah satu lembaga pemerhati Seni dan Budaya dari Uni Emirat Arab (UEA). Dalam sambutannya, wakil dari lembaga ini mengatakan bahwa lomba ini merupakan lomba semata dan bukan misi pemindahan budaya dan seni. Proyek tersebut diharapkan bisa mendukung budaya Abu Dabi menuju perubahan yang lebih baik.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;text-align: justify;margin: 0px">Dari 683 partisipan dari 31 negara, serta 969 karya yang dinilai pada akhir lomba, akhirnya menentukan 64 peserta dari 15 negara sebagai pemenangnya.</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>1. Jali tsulus:</strong><br />
Mohammed Yaman, Turki. ($ 7.500)<br />
Abdurrahman Depeler, Turki ($ 5.000)<br />
Ahmed Faris Rizk Awadh, Mesir ($ 2.500)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>2. Tsulus:</strong><br />
Sabah Erbili, Inggris ($ 7.500)<br />
Eymen Abdullah Hasan, Kuwait  ($ 5000)<br />
Mahfuz Zennun al-Ubayd, Irak ($ 2.500)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>3. Naskhi</strong><br />
Sabah Erbili, Inggris ($ 7.500)<br />
Hadi Kazan Naif  El-Derace, Irak ($ 5000)<br />
Halil Ömer Dabba (Suriah-2.500 dolar)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>4. Jaly Ta’liq</strong><br />
Juara pertama dan kedua tidak ada<br />
Ketiga Eymen Abdullah Hasan, Kuwait ($ 2000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>5. Nasta’lik</strong><br />
Ali Reza Muhibbi ?eyhlari, Iran ($ 5000)<br />
Gasem Memarzade Ghaffar, Iran ($ 3000)<br />
Mehdi Foruzandeh, Iran ($ 2000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>6. Jaly Diwani</strong><br />
Muhanned Al-Sai, Syiria ($ 5000)<br />
Abdulrazzak Mohamad Mahmod(BAI-3000 dolar),<br />
Gamal Mahmoud M. Afifi, Mesir ($ 2000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>7. Diwani</strong><br />
Abdülrezzak Karakas, Syiria ($ 3000)<br />
Hussein Ali, Syiria ($ 2000)<br />
Abdülrezzak Al-Mahmoud, UAE ($ 1000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>8. Kufi </strong><br />
Muhammad Ashraf Hira, Pakistan ($ 2000)<br />
Kemal Bin Abdul Qadir al-Bahri, Tunis ($ 1.500)<br />
Amer Bin Jeddou, Tunis ($ 1000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>9. Riq’ah</strong><br />
Ahmad Majid Khayate, Syiria ($ 2000)<br />
Mahmoud Abdullatif, Syiria ($ 1.500)<br />
Fatma Juma Ibrahim, Syiria, ($ 1000)</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><strong>10.Magribi </strong><br />
Jamal Bensaid, Maroko ($ 2000)<br />
<strong>Nur Khamidiyah, Indonesia ($ 1.500)</strong><br />
Muhieddin Khcharem, Tunis ($ 1000 dolar)
</p>
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px">
<p style="padding-top: 0px;padding-right: 0px;padding-bottom: 1em;padding-left: 0px;margin: 0px"><em>sumber : http://emnoer.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/04/22/kaligrafer-putri-indonesia-menyabet-juara-2-kategori-magribi-di-lomba-kaligrafi-internasional-turki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MK Putuskan UU Penodaan Agama Konstitusional</title>
		<link>http://qommunityradio.net/2010/04/20/mk-putuskan-uu-penodaan-agama-konstitusional/</link>
		<comments>http://qommunityradio.net/2010/04/20/mk-putuskan-uu-penodaan-agama-konstitusional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 12:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qommunityradio.net/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk menolak seluruh permohonan uji materi UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, sehingga UU tersebut dinyatakan konstitusional dan masih dapat dipertahankan.
&#8220;Menyatakan menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,&#8221; kata Ketua MK Moh Mahfud MD saat membacakan amar putusan di Gedung MK, Jakarta, Senin.
Mahkamah berpendapat dalil-dalil pemohon, baik dalam permohonan pengujian formil maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk menolak seluruh permohonan uji materi UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, sehingga UU tersebut dinyatakan konstitusional dan masih dapat dipertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Menyatakan menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,&#8221; kata Ketua MK Moh Mahfud MD saat membacakan amar putusan di Gedung <span>MK,</span> Jakarta, Senin.<span id="more-490"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mahkamah berpendapat dalil-dalil pemohon, baik dalam permohonan pengujian formil maupun permohonan pengujian material, tidak beralasan hukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara moril, menurut <span>MK,</span> UU Pencegahan Penodaan Agama masih tetap dibutuhkan sebagai pengendali ketertiban umum dalam rangka kerukunan umat beragama di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, MK juga berpendapat bahwa negara berkepentingan untuk membentuk UU Pencegahan Penodaan Agama sebagai pelaksanaan tanggung jawabnya untuk melindungi <span>HAM </span>sesuai dengan prinsip negara hukum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mahkamah menilai bahwa hak beragama dalam konteks hak asasi individu tidak dapat dipisahkan dari hak beragama dalam konteks hak asasi sosial,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam putusan tersebut, satu hakim yaitu Harjono mengajukan &#8220;concurrent opinion&#8221; (kesimpulan sama tetapi alasan berbeda) dan satu hakim lagi yaitu Maria Farida Indarti mengajukan &#8220;dissenting opinion&#8221; (kesimpulan dan alasan/pendapat yang berbeda).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Maria, meski secara formil UU tersebut masih berlaku tetapi secara substansial terdapat berbagai penyimpangan dengan nilai-nilai <span>HAM </span>yang terkandung dalam <span>UUD</span> 1945.</p>
<p style="text-align: justify;">Uji materi UU Pencegahan Penodaan Agama diajukan oleh pihak pemohon yang terdiri atas tujuh <span>LSM </span>dan beberapa orang lainnya secara pribadi yaitu Abdurrahman Wahid (alm), Musdah Mulia, Dawam Rahardjo, dan Maman Imanul Haq.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan tujuh <span>LSM </span>yang dimaksud adalah Imparsial, Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (ELSAM), Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Perkumpulan Pusat Studi <span>HAM </span>dan Demokrasi, Perkumpulan Masyarakat Setara, Yayasan Desantara, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).</p>
<p style="text-align: justify;">Para pemohon menilai bahwa pasal-pasal dalam UU Pencegahan Penodaan Agama menunjukkan adanya kebijakan yang diskriminatif antaragama, bertentangan dengan prinsip toleransi, keragaman, dan pemikiran terbuka, membatasi serta bertentangan dengan jaminan kebebasan beragama seperti terdapat dalam <span>UUD</span> 1945.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : Kementerian Agama RI</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qommunityradio.net/2010/04/20/mk-putuskan-uu-penodaan-agama-konstitusional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
